MAGETAN, tabloidnusantara . Kabar duka datang dari Lanud Iswahjudi. Serda Ahmad Muzammul Farisa, prajurit TNI AU, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi yang memicu tanda tanya besar. Keluarga menolak percaya anak pertamanya pergi karena kecelakaan. Luka di tubuh jenazah justru mengarah pada dugaan penganiayaan.
Toni Eko Prasetyo, ayah almarhum, baru mengetahui kepergian anaknya lewat telepon dari rekan sesama prajurit sekitar pukul 04.00 WIB, Kamis dini hari. Informasi awal yang disampaikan menyebutkan Ahmad meninggal akibat kecelakaan.
Namun keterangan lain yang sampai ke telinga keluarga menyebut hal berbeda. Almarhum disebut menjadi korban pengeroyokan oleh empat orang senior di asrama sekitar pukul 03.00 WIB.
Kecurigaan keluarga semakin kuat setelah menerima kiriman foto jenazah. Toni menyebut ada luka lebam yang terlihat jelas di bagian dagu. Selain itu terdapat pula luka di area dada.
“Luka di wajah bagian dagu dan bagian dada infonya,” ujar Toni kepada media, Kamis malam.
Selisih keterangan antara “kecelakaan” dan “penganiayaan” membuat keluarga menuntut kejelasan. Bagi Toni dan istrinya Retno Setio Rini, kejanggalan itu tidak bisa dibiarkan berlalu begitu saja
Hingga pukul 22.00 WIB suasana duka masih menyelimuti rumah keluarga di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan. Puluhan warga berdatangan silih berganti. Di saat yang sama, puluhan anggota TNI AU Lanud Iswahjudi juga disiagakan untuk mengawal kedatangan jenazah. Jenazah Serda Ahmad diperkirakan tiba di rumah duka sekitar tengah malam.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Lanud Iswahjudi belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti kematian dan proses hukum terhadap para senior yang diduga terlibat. Keluarga berharap institusi TNI AU mengusut tuntas peristiwa ini secara transparan.
Bagi keluarga, kepergian Ahmad bukan sekadar kehilangan. Ini adalah tuntutan keadilan atas seorang anak yang mengabdi untuk negara, namun pulang dalam keadaan penuh luka.
