SUKABUMI, tabloidnusantara. Ombak Selat Sunda kembali menelan cerita. Senin sore lalu lima jurnalis dan tiga awak speedboat bertolak dari Dermaga Pelelangan, Pantai Carita, Pandeglang, dengan satu tujuan: mendokumentasikan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sejak saat itu tidak ada lagi kabar.
Kontak terakhir terekam pukul 14.42 WIB berupa kiriman titik lokasi dari salah satu jurnalis. Dua puluh dua menit kemudian, tepat pukul 15.04 WIB, sinyal padam total. Sejak itu nama-nama mereka hanya tinggal di daftar absen redaksi dan di kecemasan keluarga yang menunggu di darat.
Hari kedua operasi, Rabu pagi, pencarian diperluas. Apel kesiapan dipimpin Kasi Operasi Basarnas Lampung Agus Majono sebelum armada gabungan bergerak. http://KP.Kakatua-5012, http://KP.XXIX-2003 milik Ditpolairud Polda Lampung, KP MAYABUSA 5005 dari Ditpolairud Baharkam Polri, bersama personel Basarnas Lampung membelah perairan dari Pulau Legundi dan Pulau Sebuku hingga menyisir kawasan Cagar Alam Krakatau.
Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Umi Iswantoro Yuliyan menegaskan keselamatan petugas dan efektivitas pencarian menjadi prioritas. “Polri bersama Basarnas dan unsur terkait terus melakukan upaya pencarian. Personel dan sarana yang ada kami siagakan untuk mendukung operasi SAR ini,” ujarnya.
Dirpolairud Polda Lampung Kombes Pol Erick Sartani Marbun menyebut tim bergerak mengikuti jejak terakhir kapal cepat itu. Cuaca, arus, dan titik komunikasi terakhir menjadi acuan perluasan area.
“Kami terus memperluas area pencarian dengan memperhatikan kondisi cuaca, arus, serta titik terakhir komunikasi. Seluruh personel di lapangan kami minta tetap mengutamakan keselamatan dan melaporkan setiap perkembangan secara berkala,” katanya.
Di dalam speedboat itu ada M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Sandi dari Merdeka, Yudha dari iNews, Isan dari Asadoki, dan Donal jurnalis freelance. Bersama mereka tiga awak kapal yang sehari-hari akrab dengan rute berbahaya di sekitar Krakatau.
Berita hilangnya rombongan ini cepat menyebar ke komunitas pers nasional. Di ruang redaksi dan grup wartawan, nama-nama itu disebut berulang kali. Di rumah, keluarga menatap laut yang sama tapi dengan rasa yang berbeda: antara harap dan takut.
Koordinasi antar lembaga terus dirapatkan. Yumi, sapaan Umi Iswantoro, menekankan fokus saat ini hanya satu. “Koordinasi dan sinergi terus dilakukan. Fokus kami saat ini adalah menemukan dan memberikan pertolongan kepada seluruh korban yang masih dalam pencarian,” katanya.
Aparat juga meminta bantuan warga pesisir dan nelayan. Sekecil apa pun tanda serpihan, perahu terbalik, atau suara di radio diminta segera dilaporkan. Hingga berita ini ditulis, kapal-kapal patroli masih terus menyisir Selat Sunda yang dikenal dengan arus kuat dan cuaca yang bisa berubah dalam hitungan menit.
Delapan orang berangkat untuk merekam letusan. Kini giliran tim SAR yang merekam setiap mil laut, demi membawa mereka pulang.
