Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

OVERLOAD, PUSKESMAS GEMBONG TAK DAPAT TAMPUNG RATUSAN SISWA KERACUNAN MBG DI PATI

PATI, tabloidnusantara. Rabu pagi yang biasanya tenang di Kecamatan Gembong berubah menjadi kepanikan. Puluhan ambulans keluar masuk silih berganti di halaman SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati. Ratusan siswa mendadak mengeluh mules, mual hingga diare usai menyantap Makan Bergizi Gratis yang dibagikan di sekolah.

Gejala pertama kali muncul saat jam istirahat. Di SMPN 1 Gembong, siswa mulai berlari ke kamar mandi. Awalnya hanya beberapa, namun menjelang siang jumlahnya terus bertambah. Kepala SMPN 1 Gembong, Istiana, menyebut ada 103 siswa dari kelas tujuh, delapan dan sembilan yang mengalami keluhan serupa.

Tidak hanya siswa, 13 guru juga merasakan hal yang sama, meski tidak sampai harus dirujuk ke fasilitas kesehatan.

Kondisi hampir identik terjadi di MTsN 3 Pati. Kepala sekolah Zaenal Arifin mengatakan sekitar 127 siswa terdampak.

Mayoritas berasal dari kelas delapan dan sembilan, karena kelas tujuh saat itu sedang mengikuti lomba daring sehingga tidak ikut makan di sekolah. Sejumlah guru juga dilaporkan ikut merasakan gejala, namun jumlah pastinya masih didata.

Ambulans dan kendaraan sekolah berhamburan membawa para siswa ke faskes terdekat. Puskesmas Gembong menjadi tujuan awal karena lokasinya paling dekat.

Namun ruang perawatan langsung penuh dalam hitungan menit. Pasien anak-anak berjejer di lorong, sebagian harus ditangani di luar ruangan karena tempat tidur tidak mencukupi.

“Overload,” begitu istilah yang dipakai petugas. Dengan kapasitas yang jebol, evakuasi kemudian dialihkan ke rumah sakit yang lebih besar. Siswa dari dua sekolah itu akhirnya dirujuk ke RSUD RAA Soewondo Pati, RS Mitra Bangsa dan Keluarga Sehat Hospital agar bisa segera mendapat infus dan penanganan medis.

Menu MBG yang disantap hari itu cukup beragam. Di SMPN 1 Gembong menunya adalah nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orak-arik tempe, lalapan, kerupuk udang dan semangka. Di MTsN 3 Pati menunya nasi bakar dengan ayam suwir dan tempe. Yang membuat janggal adalah keterlambatan distribusi.

Biasanya makanan tiba sekitar pukul setengah sepuluh pagi, namun pada Selasa dan Rabu pengirimannya baru datang lewat pukul sebelas, bahkan di atas pukul dua belas siang. Para siswa tetap memakannya karena menurut mereka rasanya enak, bahkan ada yang meminta tambah.

Zaenal mengaku tidak ada kecurigaan awal terhadap makanan tersebut. “Anak-anak merasakan enak gitu. Sehingga ada yang nambah. Ada anak yang tidak masuk, jatahnya dimakan temannya karena dirasakan enak,” ujarnya.

Kepala Dinkes Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, memastikan kedua sekolah mendapat pasokan MBG dari SPPG Gembong 1. Saat ini tim kesehatan sudah turun untuk melakukan penyelidikan epidemiologis.

Sampel makanan dan muntahan siswa dikirim ke laboratorium untuk diuji. Hasilnya akan menjadi dasar menentukan penyebab pasti dugaan keracunan massal ini.

Peristiwa ini menyisakan pertanyaan besar. Bagaimana makanan yang seharusnya menyehatkan justru membuat ratusan anak tumbang dalam waktu bersamaan.

Sementara itu, ruang kelas di dua sekolah masih lengang. Bangku-bangku kosong karena para pemiliknya kini masih terbaring di ranjang rumah sakit, menunggu hasil pemeriksaan dan kepastian kapan bisa kembali belajar seperti biasa.