TANGERANG, tabloidnusantara. Ruang tunggu Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta berubah jadi tempat singgah darurat bagi Mariyati selama hampir empat hari. Perempuan 50 tahun asal Lampung itu datang bersama anak dan cucunya sejak Sabtu malam, 5 September 2026, dan baru bisa memastikan keberangkatan ke Kalimantan pada Selasa siang, 8 September 2026.

Awalnya ia hanya transit. Pesawat dari Lampung mendarat di Soetta pukul 02.00 WIB dini hari. Beberapa jam kemudian kabar pembatalan datang. Abu vulkanik yang menyebar hingga ke wilayah Banten memaksa bandara ditutup sementara, dan semua jadwal penerbangan ke Kalimantan ikut tertunda tanpa batas waktu yang jelas.
“Di sini sudah mau empat hari. Nunggu di bandara ini saja. Ya duduk-duduk, sampai bosan, sampai kesal rasanya hati saya,” kata Mariyati saat ditemui di Terminal 1B, Selasa.
Ia memilih bertahan di dalam bandara. Bukan karena nyaman, tapi karena tidak mengenal area sekitar dan takut biaya membengkak jika harus mencari penginapan. Setiap hari ia mengecek ulang jadwal, dengan rasa cemas yang sama berulang.
“Aduh, rasanya deg-degan. Kapan bisanya? Bisa enggak berangkatnya, kata saya. Nanti dibatalkan lagi, sudah capek,” ujarnya.
Masalah lain muncul dari perut. Harga makanan di dalam bandara terlalu tinggi untuk kantongnya. Hari-hari pertama ia menahan lapar. Menu yang ada hanya bakso, roti, dan es, dengan harga yang menurutnya tidak masuk akal.
Beruntung aparat kepolisian yang berjaga memperhatikan. Anak Mariyati sempat keluar mencari nasi dan tidak menemukan tempat yang terjangkau hingga kelelahan duduk merokok. Polisi lalu menawarkan diri mengantarnya membeli makanan di luar area bandara. Bantuan kecil itu membuat beban mereka sedikit ringan di tengah ketidakpastian.
Penutupan Soetta akibat sebaran abu vulkanik memang membuat banyak calon penumpang keteteran. Ada yang menginap di kursi, ada yang bolak-balik ke konter maskapai, dan ada yang seperti Mariyati, menunggu dengan pasrah sambil menjaga anak dan cucu.
Baru Selasa siang kepastian itu datang. Bandara kembali beroperasi dan penerbangannya dijadwalkan pukul 13.00 WIB. “Alhamdulillah sudah pasti bisa. Mudah-mudahanlah, jadi berangkat hari ini. Enggak ada abu vulkanik lagi, jangan,” pungkasnya, masih dengan nada lega yang tertahan.
Kisah Mariyati memperlihatkan sisi lain dari gangguan penerbangan. Di balik pengumuman resmi dan jadwal baru, ada keluarga yang harus tidur di lantai, menahan lapar, dan menghitung setiap jam demi satu kepastian: bisa pulang.
