TIMIKA, tabloidnusantara. Dua pekan lebih tanpa kepastian membuat keluarga sembilan perempuan yang diduga masih disandera dalam insiden penyerangan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, meminta pihak yang menahan mereka segera membuka komunikasi dan memastikan keselamatan para korban.
Desakan tersebut disampaikan perwakilan keluarga korban di Timika, Rabu (2/9/2026), menyusul penyerangan yang terjadi pada 17 Agustus 2026. Dalam insiden tersebut, satu warga sipil dilaporkan meninggal dunia, sementara sembilan perempuan dibawa oleh kelompok penyerang.
Keluarga mengatakan hingga kini mereka belum memperoleh informasi yang jelas mengenai keberadaan maupun kondisi sembilan anggota keluarganya. Situasi tersebut membuat keluarga berada dalam ketidakpastian dan kecemasan.
“Amolongo Nimaome Saipa, salam sejahtera untuk kita semua. Kami sebagai keluarga korban dan sandera dari Jila khusus bicara tentang anak-anak kami yang dibawa,” ujar perwakilan keluarga dalam keterangan tertulis, Kamis (3/9/2026).
Keluarga meminta pihak yang menahan para korban tidak menjadikan keselamatan mereka sebagai bagian dari kepentingan lain. Mereka berharap jalur komunikasi segera dibuka sehingga kondisi korban dapat diketahui secara langsung.
Selain meminta kepastian informasi, keluarga juga mendesak agar sembilan perempuan tersebut segera dipulangkan dan kembali berkumpul bersama keluarga.
“Kami minta agar dalam waktu dekat pulangkan anak-anak kami sebelum dua bulan ke depan,” tegas perwakilan keluarga.
Keluarga menegaskan tuntutan tersebut semata-mata berkaitan dengan keselamatan dan keberadaan anggota keluarga mereka. Mereka juga membantah keterlibatan dalam berbagai isu politik maupun aksi lain yang berkembang setelah insiden di Jila.
Menurut keluarga, persoalan kemanusiaan tidak seharusnya semakin melebar menjadi konflik baru. Karena itu, mereka meminta penyelesaian dilakukan melalui jalur damai dan menghindari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan keamanan di Kabupaten Mimika.
Keluarga juga mengajak masyarakat luas menyampaikan pesan kemanusiaan tersebut kepada pihak yang diduga menahan para korban agar sembilan perempuan itu segera dibebaskan.
Bagi keluarga, kepastian mengenai keberadaan dan keselamatan korban menjadi kebutuhan paling mendesak setelah lebih dari dua pekan mereka hidup dalam penantian.
Mereka berharap seluruh korban dapat kembali dalam keadaan selamat dan berkumpul bersama keluarga tanpa adanya kekerasan maupun korban tambahan.
