Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BENCANA ALAM

AKTIVITAS ANAK KRAKATAU TURUN , TAPI STATUS SIAGA TETAP DAN ANCAMAN ERUPSI BELUM SELESAI

SERANG, tabloidnusantara. Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memang menunjukkan pelemahan. Namun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menegaskan pelemahan itu bukan sinyal bahwa gunung api tersebut sudah tenang. Ancaman erupsi susulan masih nyata dan terus dipantau ketat.

Kepala PVMBG Rita Susilawati menyampaikan hal itu saat meninjau Pos Pemantau Gunung Api Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Minggu. Dari data alat pemantauan terlihat tren aktivitas menurun. Tetapi menurutnya penurunan bukan berarti berhenti. Kemungkinan besar letusan masih bisa terjadi kapan saja.

Karena itulah pemantauan dilakukan penuh selama 24 jam. Setiap perubahan data langsung diteruskan ke pemerintah daerah agar langkah penanganan kebencanaan bisa cepat diambil jika rekomendasi berubah.

Yang juga menjadi perhatian adalah arah sebaran abu vulkanik. Rita mengingatkan masyarakat dan pihak terkait untuk tidak menganggap arah abu bersifat tetap. Arahnya sangat tergantung pada tiupan angin dan bisa berubah dari hari ke hari. Pada 6 September lalu, abu tercatat bergerak ke arah barat, menyebar ke bagian selatan Selat Sunda hingga ke Samudra Hindia.

Untuk memantau pergerakan itu, PVMBG bekerja sama dengan BMKG dan sejumlah stasiun pengamatan di Australia. Koordinasi ini penting bukan hanya untuk warga di pesisir, tetapi juga untuk keselamatan penerbangan. Abu vulkanik yang terbawa angin dapat mengganggu rute aviasi di wilayah Selat Sunda dan sekitarnya.

Hingga saat ini status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Rita menegaskan penetapan status itu tidak ditentukan dari seberapa besar letusannya. Yang menjadi tolok ukur adalah tingkat ancaman terhadap masyarakat di sekitar kawasan.

Mengingat letusan yang terus berulang berpotensi membahayakan warga dan nelayan, PVMBG tetap memberlakukan larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah. Zona itu dianggap rawan terhadap lontaran material, gas berbahaya, maupun gelombang jika terjadi erupsi eksplosif.

“Untuk memastikan kapan persisnya erupsi terjadi memang tidak bisa. Yang bisa kita lakukan adalah terus memantau dan membaca tanda-tandanya,” ujar Rita menutup keterangannya.

Dengan kondisi seperti ini, kewaspadaan menjadi kata kunci. Penurunan aktivitas boleh melegakan, tetapi selama status Siaga belum dicabut, Selat Sunda belum bisa sepenuhnya bernapas lega.