JAKARTA, tabloidnusantara. Sebagai upaya peningkatan mutu keselamatan mendorong RS Bhayangkara Tingkat I Polri mengambil langkah cepat. Melalui kolaborasi dengan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia dan Kementerian Kesehatan, rumah sakit kini menerapkan Rapid Response Telemedicine, sebuah sistem layanan kegawatdaruratan berbasis platform Fast Response Host yang menghubungkan pasien di IGD secara real time dengan dokter spesialis.
AKBP dr. Maurit Tamalonggehe Sp.B, dokter bedah umum yang merupakan penggagas ide RRT menjelaskan, gagasan RRT lahir dari persoalan klasik di IGD, komunikasi yang lambat antara dokter umum dan dokter spesialis. Keterlambatan itu berdampak langsung pada penanganan pasien.

Salah satu indikatornya adalah masih tingginya angka kritis keselamatan pasien. Berdasarkan data rumah sakit, capaian indikator tersebut masih berada di atas standar yang ditetapkan, sehingga menjadi sinyal kuat bahwa sistem pelayanan harus segera dibenahi agar angka kematian pasien di IGD bisa ditekan.
Masalah tidak berhenti di situ. Penegakan diagnosis yang tertunda membuat lama rawat pasien memanjang. Kondisi ini berimbas pada beban pembiayaan, terutama bagi peserta BPJS, karena perawatan yang seharusnya singkat justru melampaui plafon yang telah ditentukan. Situasi semakin terasa pada akhir pekan ketika dokter spesialis memiliki agenda di luar rumah sakit, sehingga respon konsultasi belum bisa diberikan secara langsung dan real time.
Rapid Response Telemedicine hadir untuk memutus rantai keterlambatan itu. Konsepnya sederhana namun fundamental: begitu pasien masuk IGD, dokter umum dapat langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis melalui video real time, tanpa harus menunggu kehadiran fisik. Sistem ini terintegrasi langsung ke dalam SIMRS sehingga seluruh data pasien tetap terdokumentasi dan alur informasinya terjaga.
“Pada saat pasien itu masuk di IGD secara real-time, walaupun dokter spesialisnya ada di mana berada dapat berkomunikasi, dapat melihat langsung, menegakkan diagnosis pada saat itu sebisa mungkin untuk dapat penanganan secara cepat,” ujar dr. Maurit.
Harapannya jelas. Dengan respon awal yang lebih cepat, angka kematian pasien diharapkan turun, lama rawatan menjadi lebih singkat, dan kepuasan pasien meningkat karena keluhan mereka segera ditangani. Bahkan untuk kasus yang membutuhkan tindakan operasi, keputusan dapat diambil lebih dini sehingga operasi darurat bisa segera dilakukan.
Dampak positif sudah mulai dirasakan. Respons pasien sejauh ini sangat baik. Banyak yang menyampaikan rasa terima kasih karena mendapatkan pelayanan cepat. Ada pula testimoni pasien yang mengaku kondisinya membaik setelah ditangani melalui RRT. Di sisi pembiayaan, percepatan layanan juga membantu menekan biaya perawatan sehingga tidak lagi membebani plafon BPJS secara berlebihan.
LAN RI melihat RRT sebagai jawaban atas dua tantangan besar RS Bhayangkara Tk I saat ini, yakni lonjakan kunjungan pasien dan kebutuhan meningkatkan mutu keselamatan. Integrasi telemedicine ke dalam SIMRS memungkinkan pertukaran informasi antara perawat IGD dan dokter spesialis berjalan lebih lancar. Dokumentasi proses penanganan menjadi lebih rapi karena seluruh aktivitas terekam dalam sistem. Versi aplikasi mobile juga disiapkan agar komunikasi video dapat dilakukan kapan saja, termasuk di luar jam kerja reguler.
Untuk mengakses layanan ini, tenaga medis cukup masuk melalui menu login di SIMRS, memilih modul Telemedicine IGD, dan langsung terhubung ke ruang konsultasi. Alur ini dirancang untuk mengurangi penumpukan di unit gawat darurat, mempermudah dokter memberikan arahan medis, serta memastikan sarana dan prasarana pendukung tetap terpantau.
Saat ini pendataan jumlah pasien yang telah menggunakan RRT masih dalam tahap awal, namun dr. Maurit menegaskan manfaatnya sudah nyata dalam mengurangi risiko keterlambatan penanganan. Ke depan, RS Bhayangkara Tk I menargetkan agar penerapan RRT dapat terus menurunkan angka kematian pasien yang datang ke IGD dan memastikan setiap pasien darurat langsung mendapat penanganan cepat.
Harapan besar juga disematkan agar sistem ini dapat direplikasi. LAN RI dan RS Bhayangkara Tk I mendorong agar RRT dapat digunakan oleh rumah sakit-rumah sakit jejaring Bhayangkara di daerah-daerah. Dengan begitu, transformasi digital di layanan gawat darurat tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga menguatkan instalasi gawat darurat rumah sakit Bhayangkara di berbagai wilayah agar menjadi lebih responsif, aman, dan manusiawi.

Sementara, Irjen Pol Asep Hendradiana, kepala pusat kedokteran polisi menyatakan dukungan penuh, proyek perubahan proyek PKN II oleh AKBP dr Maurit Tamalonggehe spesial bedah dengan judul transformasi layanan kegawatdaruratan terintergrasi melalui respon cepat dokter spesialis berbasis telemedicene di IGD Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat I Polri.
Proyek ini merupakan inovasi strategis untuk mempercepat konsultasi, kecepatan tindakan dan keselamatan pasien.
Saya berharap inovasi dapat di implementasikan secara berkelanjutan guna meningkatkan mutu layanan kegawatdaruratan di RS Bhayangkara Tingkat I Polri.

Selain itu, dukungan penuh datang dari Irjen Pol dr. Prima Heru Yulihartono, M.Kes., M.H. Kepala Rumah Sakit Bhayangkara TK.I Pusdokkes Polri,
Ia mengatakan ebagai Rumah sakit rujukan utama dan tertinggi di lingkungan Polri peningkatan mutu layanan kegawatdarurutan di IGD adalah prioritas mutlak yang berontasi pada keselamatan pasien inovasi konsultasi inovasi konsultasi spesialis berbasis telemedicene dengan SIMRS dan dilengkapi dengan dasbor monitoring real time ini merupakan langkah strategis yang sangat tepat untuk mempercepat respon medisn dan untuk pengambilan keputusan klinis.
Saya berharap proyek perubahan ini tidak hanya memangkas waktu tunggu di IGD tetapi juga mampu memperkuat tata kelola pelayanan publik serta mendukung mewujudkan polri lebih presisi.
