SIDOARJO, tabloidnusantara. Bupati Sidoarjo Subandi menepis kabar adanya korban jiwa dalam kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis yang menimpa ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam.
Dari ruang perawatan RSUD Notopuro, ia memastikan seluruh santri yang sempat dirawat dalam kondisi termonitor dan mendapat penanganan medis penuh.
“Tidak ada bahasa yang meninggal itu tidak ada. Semuanya anak-anak kita yang tiba di rumah sakit sudah termonitor semua,” ujar Subandi kepada wartawan, Selasa (1/9).
Ia bahkan menyebut santri yang kondisinya sudah membaik langsung dipulangkan agar bisa kembali berkumpul dengan keluarga.
Pernyataan itu disampaikan setelah Subandi berkeliling mengecek langsung ke tiga rumah sakit rujukan. Di RSUD Notopuro, tempat rujukan utama, hampir dua ratus santri sempat menjalani perawatan.
Kondisinya berangsur membaik sejak pagi setelah tim medis bekerja cepat menangani keluhan yang paling banyak muncul, yaitu diare.
Di RS Siti Hajar, Subandi mencatat ada puluhan santri lain yang juga tertangani dengan baik. Sementara di RS Delta Surya jumlahnya lebih sedikit dan disebut hanya mengalami gejala ringan.
Seluruhnya, menurut bupati, berada di bawah pengawasan dokter dan belum diperbolehkan pulang sebelum dinyatakan benar-benar stabil.
“Kalau ada berita yang meninggal itu tidak benar. Saya sudah cek sampai dua kali di sini, kita kontrol semuanya sudah tertangani dengan baik,” tegasnya.
Ia menambahkan, proses penanganan yang cepat membuat gejala tidak berlanjut ke kondisi berat. Hari ini, kata Subandi, angka pasien dengan diare sudah turun signifikan.
Di tengah kecemasan para wali santri, Subandi meminta agar tidak ada kepanikan. Ia menekankan Pemkab Sidoarjo telah memaksimalkan pelayanan di setiap rumah sakit rujukan dan berkoordinasi langsung dengan direktur RS agar pemulangan dilakukan hanya setelah ada persetujuan medis.
“Saya menghimbau bapak wali santri semuanya ndak usah ada kekhawatiran. Kita sebagai pimpinan daerah sudah memaksimalkan dalam pelayanan. Sampai anak panjenengan semua akan sembuh,” ucapnya.
Kasus dugaan keracunan ini menyita perhatian karena menyangkut program MBG yang menyasar santri. Meski jumlah yang dirawat terbilang besar, Subandi menegaskan tidak ada satupun yang masuk kategori kritis dan semua dalam pengawasan ketat.
Ia berjanji akan terus memantau perkembangan hingga santri terakhir dinyatakan sehat dan bisa kembali ke pondok.
