Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

IRONIS, SEOLAH TAK TERJADI APA-APA, ANAK-ANAK TETAP SEKOLAH DI TENGAH ERUPSI SINABUNG

KABUPATEN KARO, tabloidnusantara. Dari puncaknya di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kolom abu hitam tebal menyembur hingga 3.500 meter di atas puncak. Jika dihitung dari permukaan laut, tingginya mencapai 5.960 meter. Angin membawanya ke timur dan tenggara. Erupsi itu terekam 1 jam 1 menit 48 detik dengan amplitudo 120 mm di seismograf pada Senin, 31 Agustus 2026, pukul 10.17 WIB.

Bagi gunung, itu rutinitas. Bagi manusia di bawahnya, itu pengingat.

Dan di sela abu yang mulai turun, sebuah video beredar. Isinya sederhana dan menusuk: anak-anak SD masih bermain di halaman sekolah. Seragam rapi. Tawa masih ada. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Status Sinabung saat ini Level II Waspada. Artinya gunung sedang gelisah. PVMBG sudah meminta warga tidak masuk ke desa-desa yang telah direlokasi, tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari puncak, dan memperluas menjadi 4,5 km ke arah selatan-tenggara.

Dinas Pendidikan lalu mengeluarkan imbauan: PAUD, SD, SMP, SMA, SMK di wilayah terdampak wajib pakai masker saat di luar ruangan. Ikuti arahan petugas. Warga di sekitar sungai yang berhulu di Sinabung juga diminta waspada lahar.

Imbauannya benar. Tapi realitas di lapangan sering tidak punya pilihan.

Sekolah tidak bisa diliburkan setiap kali gunung bersuara. Orang tua harus kerja. Anak harus ujian. Kurikulum harus jalan. Jadi yang bisa dilakukan adalah: masker, masuk kelas, doa, lalu lanjut.

Itu yang membuat foto terasa ganjil. Bukan karena anak-anaknya salah. Tapi karena kita sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan bahaya, sampai bahaya itu terlihat biasa.

Abu vulkanik bukan debu biasa. Halus, tajam, masuk ke paru-paru. Untuk anak-anak dengan saluran napas yang masih berkembang, risikonya lebih besar. Ditambah potensi lahar dingin jika hujan turun.

Hanya “Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan,” tulis imbauan resmi. Kalimat itu singkat. Tapi di baliknya ada orang tua yang tiap pagi mengecek arah angin, guru yang harus jadi petugas keselamatan, dan kepala sekolah yang menimbang antara hak belajar dan hak untuk aman.

Sinabung sudah 14 tahun tidak benar-benar tenang sejak erupsi besar 2010. Warga sudah hafal sirene, hafal jalur evakuasi, hafal bau belerang. Yang belum mereka hafal adalah: sampai kapan normalitas harus dibayar dengan kewaspadaan 24 jam?

Anak-anak di video itu bukan sedang “tangguh”. Mereka hanya anak-anak yang ingin sekolah. Yang harusnya tidak perlu belajar membedakan abu tipis dan abu tebal sebelum bel masuk berbunyi.

Tugas kita bukan memuji mereka karena tetap sekolah di tengah erupsi. Tugas kita memastikan mereka tidak perlu memilih antara sekolah dan selamat.

Hari ini Sinabung masih Waspada. Besok bisa naik. Bisa turun.

Sementara itu, di halaman sekolah, bel istirahat akan tetap berbunyi. Anak-anak akan tetap antre jajan. Guru akan tetap mengingatka, “Pakai masker ya nak.” Semoga itu cukup.

Dan semoga kita tidak perlu lagi membuat berita tentang anak-anak yang belajar di bawah langit yang sedang mengabu.