Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

BPBD NTB DESAK REKONTRUKSI ANTI API DI DUSUN ADAT SADE NTB

MATARAM, tabloidnusantara. Kebakaran yang meluluhlantakkan Dusun Adat Sade tidak akan dijawab hanya dengan membangun ulang rumah. BPBD NTB menegaskan, proses rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan itu harus sekaligus membenahi kelemahan yang membuat api cepat meluas: akses pemadam dan bahan bangunan.

Kepala BPBD NTB Sadimin mengatakan saat ini penanganan masih di tahap tanggap darurat. Tahap berikutnya adalah rehabilitasi dan rekonstruksi total.

“Ke depannya ada banyak perbaikan. Saat ini baru tahap tanggap darurat, kemudian nanti berlanjut ke rencana rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Sadimin di Mataram, Jumat 28 Agustus 2026.

Data sementara BPBD NTB menyebut nilai kerugian akibat kebakaran mencapai hampir Rp34 miliar. Api muncul sekitar pukul 22.00 WITA, Jumat 22 Agustus 2026, dari salah satu rumah di tengah permukiman. Karena sebagian besar bangunan terbuat dari kayu, bambu, dan ilalang, api cepat merembet ke rumah lain.

Kendala klasik kembali muncul: mobil pemadam kesulitan masuk ke permukiman adat yang jalannya sempit dan padat. Itu yang jadi catatan utama BPBD dalam perencanaan ulang kawasan.

Sadimin menegaskan, rekonstruksi Dusun Sade tidak sekadar mengembalikan bentuk rumah adat. Pemerintah akan menata ulang kawasan agar lebih aman dan memiliki kesiapsiagaan lebih baik.

“Kami dorong ada perbaikan akses untuk kendaraan pemadam, penataan jarak antar rumah, dan penguatan bahan yang tetap menghormati arsitektur adat,” ujarnya.

Proses pemulihan dilakukan secara gotong royong. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Pemerintah Provinsi NTB, hingga kemungkinan dukungan pemerintah pusat akan dilibatkan. Sejumlah tim dari perguruan tinggi juga sudah turun untuk membantu menyusun perencanaan pemulihan berbasis risiko bencana.

“Momen pemulihan ini harus jadi kesempatan menata kawasan rumah adat Sade agar lebih aman dan tangguh terhadap bencana,” kata Sadimin.

Dusun Adat Sade adalah salah satu kampung adat tertua di Pulau Lombok. Didirikan sejak abad ke-16 dan telah diwariskan selama 15 generasi. Di mata wisatawan domestik maupun mancanegara, Sade dikenal sebagai etalase budaya Suku Sasak yang masih kuat menjaga tradisi, arsitektur, dan tenun.

Kebakaran besar ini menjadi ujian: bagaimana menjaga keaslian tanpa mengorbankan keselamatan. Jika penataan gagal, risikonya bukan hanya kehilangan bangunan, tapi juga hilangnya daya dukung wisata budaya yang menopang ekonomi warga.

BPBD NTB menargetkan masterplan rehabilitasi rampung dalam waktu dekat. Setelah itu masuk tahap pembangunan fisik yang diharapkan bisa dimulai sebelum puncak musim kemarau berikutnya.

Untuk warga Sade, yang dipertaruhkan bukan hanya atap. Tapi juga 500 tahun sejarah yang tinggal di dalamnya.