JAKARTA, tabloidnusantara. Polri bergerak cepat merespons kabut asap karhutla. Ribuan tabung oksigen dan bantuan logistik mulai dikirim ke 6 provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan, dengan tahap awal ditujukan ke Kalimantan Barat.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan pengiriman tahap pertama untuk Kalbar dijadwalkan lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (25/8) pukul 06.30 WIB.
“Untuk tahap awal, bantuan yang diberangkatkan adalah untuk mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Sementara bantuan untuk wilayah lainnya juga terus kami siapkan dan akan dikirimkan secepatnya secara bertahap sesuai kesiapan pengangkutan dan kebutuhan di lapangan,” kata Trunoyudo di Jakarta, Senin.
Paket bantuan untuk Kalbar tidak hanya makanan. Polri mengirim perlengkapan yang memang dibutuhkan di lapangan saat memadamkan api di lahan gambut.
Rinciannya, 6 set tenda pleton, 200 dus makanan tambahan Polri, selang pemadam kebakaran hutan ukuran 1,5 inci dan 2,5 inci, gun nozzle pistol spray, nozzle, connector Y, serta tabung oksigen ukuran besar dan kecil.
Untuk distribusi tabung oksigen, Polri menyiapkan total 1.250 tabung yang akan disebar ke titik-titik terdampak:
– Kalimantan Tengah 250 tabung
– Riau 250 tabung
– Kalimantan Barat 200 tabung
– Kalimantan Selatan 200 tabung
– Sumatera Selatan 200 tabung
– Jambi 150 tabung
Selang, nozzle, dan tenda pleton dikirim karena operasi karhutla di gambut bisa berlangsung berminggu-minggu. Petugas butuh logistik yang tahan lama dan peralatan khusus agar pemadaman efektif.
Trunoyudo menegaskan tabung oksigen disiapkan bukan hanya untuk petugas, tapi juga untuk masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap.
“Dukungan logistik ini merupakan bagian dari upaya Polri untuk memastikan petugas memiliki perlengkapan yang memadai dalam melaksanakan pemadaman sekaligus memberikan dukungan kepada masyarakat di wilayah terdampak,” ujarnya.
Ini penting karena setiap tahun karhutla di Sumatera dan Kalimantan memicu ISPA, gangguan mata, dan penurunan kualitas udara hingga level berbahaya. Kehadiran oksigen di puskesmas dan posko pengungsian bisa jadi pembeda antara penanganan biasa dan penanganan darurat.
Polri menyatakan pengiriman akan terus dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kesiapan angkut. Pemantauan di lapangan juga jalan agar bantuan tidak terlambat sampai.
Dengan 6 provinsi masuk daftar prioritas, uji terbesarnya ada di kecepatan distribusi. Jangan sampai bantuan oksigen datang setelah kabut asap sudah menebal dan korban berjatuhan.
