Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BENCANA ALAM

KORBAN GEMPA FLORES TEMBUS 100 JIWA, BNPB: HOAKS TSUNAMI PICU PENGUNGSIAN DI BUKIT

JAKARTA, tabloidnusantara. Jumlah korban meninggal akibat gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur, melonjak dua kali lipat dalam sepekan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat total korban meninggal kini 100 jiwa, naik dari 48 jiwa pada hari pertama dan kedua.

Kenaikan itu bukan karena gempa susulan baru, melainkan karena banyak korban luka berat yang akhirnya tidak tertolong di rumah sakit.

“Untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan, bahwa yang meninggal seratus ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan,” kata Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers daring, Senin (24/8).

Selain korban jiwa, BNPB mencatat 1.603 orang mengalami luka-luka. Jumlah pengungsi mencapai 180.327 jiwa yang tersebar di posko resmi maupun titik-titik pengungsian mandiri.

Angka pengungsi mandiri justru menjadi pekerjaan rumah terbesar. Suharyanto menyebut banyak warga panik dan nekat mendirikan tenda jauh dari jangkauan petugas, termasuk di kawasan perbukitan.

Pemicunya: hoaks potensi tsunami susulan yang beredar di media sosial dan grup WhatsApp.

BNPB bantah isu tsunami, soroti penyebaran hoaks

Suharyanto menegaskan isu tsunami susulan tidak benar. Ia menunjuk data resmi BMKG yang setiap pagi memutakhirkan aktivitas kegempaan.

“Semua itu tidak betul, karena setiap pagi instansi yang berwenang, sekali lagi Kepala BMKG selalu meng-update, menginformasikan perkembangan gempa, dan dalam delapan hari ini tidak pernah ada satupun gempa susulan yang melebihi gempa utama,” ujarnya.

“Ini juga kami suarakan supaya masyarakat tidak percaya kepada isu-isu hoaks yang tidak bertanggung jawab.”

Menurut data BMKG yang dirilis BNPB, hingga pukul 05.00 WIB hari ke-8 pascabencana tercatat 6.409 kali gempa susulan. Gempa terbesar 6,2 magnitudo, terkecil 1,1 magnitudo. Dari jumlah itu, 33 kali gempa berkekuatan sama dengan atau lebih dari 5 magnitudo dan 139 kali dirasakan masyarakat.

BNPB memproyeksikan gempa susulan masih akan terjadi 3 sampai 4 minggu ke depan hingga lempeng kembali stabil, dengan tren intensitas yang terus menurun.

Pemerintah daerah saat ini masih berjuang menyalurkan bantuan ke titik pengungsian mandiri. Medan berat memaksa petugas menggunakan kendaraan kecil hingga berjalan kaki menembus perbukitan.

Namun Suharyanto jujur mengakui distribusi belum merata.

“Apakah semuanya sudah ter-cover, apakah semuanya sudah dapat, apakah semuanya sudah cukup, kami jawab belum cukup. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kami akan berusaha sekuat tenaga agar para pengungsi mandiri yang tetap bertahan di tempat-tempat yang jauh, tetap dilayani kebutuhan logistik dan kebutuhan dasar manusia lainnya,” katanya.

Pernyataan itu sekaligus membuka celah kritik, imbauan agar warga merapat ke posko terpusat terbentur rasa takut yang dipicu hoaks, sementara negara belum mampu menjangkau semua titik dalam waktu cepat.

BNPB mengimbau masyarakat hanya merujuk informasi dari BMKG dan posko resmi BNPB/BPBD. Warga yang masih bertahan di pengungsian mandiri diminta segera melapor agar pendataan dan distribusi logistik bisa dipercepat.