JAYAPURA, tabloidnusantara. Di hari Indonesia genap 81 tahun, Senin (17/8), tembakan tidak terdengar di Distrik Hitadipa, Intan Jaya. Yang terdengar justru tepuk tangan, doa, dan janji.
Di bawah langit Papua Tengah, Koops TNI Habema bersama warga, tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah meresmikan Kampung Hitadipa sebagai “Kampung Papua Damai”, Sekaligus meresmikan Jembatan Garuda yang selama ini hanya jadi mimpi.
Bagi warga Hitadipa, kemerdekaan tahun ini terasa berbeda. Bukan hanya upacara. Tapi rasa aman pulang ke rumah sebelum malam.

Damai Itu Bukan Sekadar Tidak Ada Tembakan
Kepala Koops TNI Habema menegaskan, “Kampung Papua Damai” bukan slogan.
”Damai itu ketika anak-anak bisa ke sekolah tanpa takut. Ketika ibu-ibu ke kebun tanpa menoleh ke belakang. Ketika adat jalan, ekonomi hidup, dan negara hadir,” ujarnya di sela penandatanganan komitmen bersama.
Komitmen itu ditandatangani bersama. Ada cap jempol tokoh adat, tanda tangan pendeta, stempel kepala kampung, dan paraf aparat. Satu kertas, banyak harapan.
Selama ini Hitadipa dikenal sebagai salah satu titik rawan di Intan Jaya. Jalan terputus. Pelayanan kesehatan jauh. Ekonomi jalan di tempat karena akses terbatas.

Kini, dengan diresmikannya Jembatan Garuda, semua itu mulai berubah. Jembatan itu bukan hanya penghubung dua tebing. Dia penghubung ke sekolah, ke puskesmas, ke pasar, ke masa depan.
”Jembatan ini namanya Garuda. Karena dia akan mengangkat kami,” kata salah satu mama-mama yang ikut memotong pita, matanya berkaca.
Papua Jalan Damai Dimulai dari Kampung
Program “Papua Jalan Damai” memang sengaja dimulai dari bawah. Dari kampung. Karena menurut TNI, perdamaian tidak akan kuat kalau hanya dijaga di pos. Ia harus hidup di dapur, di gereja, di honai, di kebun.
Di Hitadipa, itu mulai terlihat. Keamanan ada. Pelayanan dasar mulai masuk. Adat dihormati. Ekonomi kecil mulai bergerak.
”Keberhasilan perdamaian bukan diukur dari sepi suara senjata. Tapi dari ramai suara anak sekolah dan tawa di pasar,” tegas perwakilan Koops Habema.
Tema HUT RI ke-81 tahun ini adalah Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur
Di Hitadipa, tema itu diterjemahkan sederhana, Berdaulat karena negara hadir. Adil karena semua dapat akses yang sama. Makmur karena jalan sudah terbuka.
Deklarasi Kampung Damai ini menjadi simbol. Bahwa kemerdekaan tidak boleh berhenti di kota besar. Ia harus jalan kaki, menyeberang jembatan, sampai ke pelosok Hitadipa.
Saat bendera Merah Putih dinaikkan tepat pukul 07.00 WIT, dan Jembatan Garuda diresmikan, warga berteriak: “Merdeka!”
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, teriakan itu tidak dibalas suara lain. Hanya gema di lembah. Dan damai.
