JAKARTA, tabloidnusantara. Di usia ke-81, Indonesia kembali diingatkan untuk menjaga semangat awal berdirinya bangsa. Bedanya, kali ini semangat perjuangan dan gotong royong itu dibawa ke ranah digital.
Melalui video yang diunggah di akun Instagram resmi @kemkomdigi pada Senin, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyerukan agar teknologi tidak hanya jadi alat, tapi juga jembatan pemersatu.
”Di era digital, mari jadikan teknologi sebagai kekuatan untuk mempererat persatuan, membuka kesempatan, serta menghadirkan manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Meutya.
Menurut Meutya, fondasi Indonesia dibangun dari tiga hal: perjuangan, persatuan, dan gotong royong. Nilai itu menurutnya harus terus hidup, apalagi saat negara bertransformasi ke digital.
”81 tahun Indonesia berdiri dengan semangat perjuangan, persatuan, dan juga gotong royong. Semangat itu harus terus kita jaga, kita wujudkan Indonesia yang semakin maju, semakin berdaulat, dan juga sejahtera,” katanya.
Pesan ini muncul bertepatan dengan HUT ke-81 RI, saat pemerintah gencar mendorong digitalisasi di berbagai sektor pelayanan publik.
Dari Kelas, Puskesmas, sampai Bantuan Sosial, Semua Masuk Digital
Pemerintah saat ini memanfaatkan teknologi untuk mempercepat dan mempermudah akses layanan dasar. Empat fokus utama yang didorong Kemkomdigi:
- Pendidikan: platform pembelajaran digital dan data siswa terintegrasi
- Kesehatan: rekam medis elektronik dan telemedicine
- Usaha: perizinan online dan akses pasar UMKM
- Sosial: penyaluran bantuan yang lebih tepat sasaran
Yang paling disorot adalah digitalisasi Sistem Perlindungan Sosial atau Perlinsos.
Hingga Agustus 2026, sistem Perlinsos Digital sudah diuji coba di 153 kota dan kabupaten. Hasilnya: 3 juta keluarga sudah terdaftar dalam database digital.
Tujuannya sederhana: memastikan bantuan sosial pemerintah sampai ke orang yang tepat, tanpa tumpang tindih dan tanpa kebocoran.
”Sistem ini dinilai bisa mengefisienkan dan mengefektifkan pelaksanaan program bantuan sosial,” jelas Kemkomdigi.
Pemerintah menargetkan cakupan yang jauh lebih besar. Saat diterapkan secara nasional, Perlinsos Digital ditargetkan menjangkau 49 juta keluarga di seluruh Indonesia.
Dengan data yang terpusat dan terverifikasi, proses penyaluran bansos diharapkan lebih cepat, transparan, dan akuntabel.
Ajakan Kemkomdigi di HUT ke-81 ini menegaskan satu hal: transformasi digital bukan hanya soal aplikasi baru. Ini soal bagaimana teknologi dipakai untuk menjaga persatuan dan menghadirkan keadilan sosial.
Di tengah tantangan ekonomi dan kesenjangan akses, digitalisasi pelayanan publik jadi salah satu cara negara hadir lebih dekat ke masyarakat.
