Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

SEMARAK 17 DI TERMINAL KALIDERES MEMANG BEDA, IBU-IBU LOMBA TARIK BUS BERBOBOT 20 TON

JAKARTA, tabloidnusantara. Kalau biasanya 17 Agustus identik dengan lomba balap karung dan makan kerupuk, di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, tahun ini suasananya beda level. Para ibu-ibu dan karyawan terminal kompak menarik bus tingkat seberat 20 ton.

Ajang unik itu digelar Minggu, untuk menyemarakkan HUT ke-81 RI. Bus yang jadi “lawan” para peserta adalah armada Gunung Harta bertingkat. Bayangkan, 15 orang satu tim harus menggeser raksasa jalanan itu hanya dengan tenaga dan tali.

Kepala Terminal Kalideres, Nur Prasetyo alias Tyo, bilang lomba ini sengaja dibuat untuk merekatkan semua orang yang hidupnya di terminal.

“Pesertanya dari karyawan PO Bus, agen-agen PO Bus, pegawai Dishub, UMKM, sampai pedagang asongan di terminal. Tujuannya untuk memeriahkan terminal dan kebersamaan para pelaku usaha di dalam terminal bus,” kata Tyo di lokasi.

Yang paling jadi sorotan, tim ibu-ibu. Salah satunya Ena, 48, petugas PO Bus. Ini kali kedua ia ikut sejak 2025.

Sejak pagi ia sudah “ngecas” tenaga. Tapi begitu tali ditarik, tenaganya langsung ludes.

“Udah disiapin tenaganya. Tapi tenaganya tiba-tiba hilang karena berat busnya,” ujar Ena sambil tertawa.

Saat ditanya mana lebih berat, bus atau hidup, jawaban Ena bikin satu lapangan ngakak.

“Lebih berat beban hidup daripada beban bus,” selorohnya.

Meski ngos-ngosan, tim Ena berhasil menang. Tapi menurutnya hadiah nomor sekian.

“Kita bukannya mengharapkan hadiahnya ya, buat keseruannya aja, buat ngeramai-ramaiin 17 Agustus aja,” tuturnya. Ia menutup dengan harapan sederhana di usia kemerdekaan ke-81: “Semoga ke depannya Indonesia lebih baik daripada tahun kemarin.” Ucapnya.

Nila, 47, peserta ibu-ibu lainnya, juga merasakan hal sama.

“Pengalaman seru banget. Semangat 45 dah nariknya. Pokoknya busnya berat banget,” katanya.

Soal perbandingan bus vs beban hidup, Nila punya filosofi sendiri.

“Jangan ditanya kalau beban hidup mah. Kalau beban hidup kan mental ya, kita jalanin aja. Kalau ini bus kan bareng-bareng, ketarik sama kita. Harus ada kerja sama kelompok,” imbuhnya.

Dan benar, kekompakan jadi kunci. Meski harus menguras tenaga ekstra, tawa dan canda justru yang paling kencang terdengar sepanjang lomba.

Kemeriahan tidak berhenti di situ. Panitia juga menyiapkan lomba khas 17-an lainnya: catur, sepak bola perempuan, joget terong, joget balon, balap karung, tarik tambang, sampai makan kerupuk.

Di tengah terik dan tenaga yang terkuras, Terminal Kalideres membuktikan satu hal: kemerdekaan paling terasa saat kita menarik beban berat… bersama-sama.