UGIMBA, INTAN JAYA, zaa. Selama 15 tahun, nama Ugimba hanya sampai di peta. Jalan menuju ke sana terputus oleh hutan lebat, tanjakan curam, dan suhu yang bisa turun sampai 4 derajat Celsius. Anak-anak besar tanpa pernah melihat mobil. Orang tua berobat dengan jalan kaki berhari-hari. Pasar, sekolah, kantor pemerintahan, semua terasa sejauh langit.
Minggu itu, 16 Agustus 2026, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, suara helikopter memecah sunyi di bawah kaki Gunung Cartenz. Bukan untuk perang. Tapi untuk pulang. Negara datang.
7 Hari Berjalan Kaki Menembus Gunung
Prajurit Koops TNI Habema berjalan kaki selama 7 hari dari titik pendaratan helikopter. Medannya bukan jalan. Batu, lumpur, kabut, dan dingin yang menusuk tulang. Mereka membawa lebih dari senjata. Mereka membawa niat agar ibu-ibu di Ugimba bisa ke puskesmas tanpa takut, agar anak-anak bisa ke sekolah tanpa harus sembunyi, agar bapak-bapak bisa ke kebun lagi.
Wilayah ini memang rawan. Aktivitas kelompok bersenjata membuat Ugimba terkurung. Bukan hanya oleh jarak, tapi juga oleh rasa tidak aman. Selama ini masyarakat hidup dalam keterbatasan yang tidak terlihat dari kota.

Bukan Hanya Pengamanan
Sesampainya di distrik, Pangkoops TNI Habema Mayjen TNI Yudha Airlangga tidak langsung memberi perintah. Ia duduk bersama warga. Di depannya ada 200 kilogram sembako, 3 ekor babi, 50 kilogram ayam, dan karung berisi mainan anak.
Bagi sebagian orang itu bantuan biasa. Bagi Ugimba, itu pesta. Itu tawa anak-anak yang pertama kali memegang boneka. Itu lauk untuk syukuran HUT ke-81 RI yang selama ini hanya bisa dirayakan dalam doa.
“Kami tidak hanya jaga wilayah. Kami ingin memastikan bapak, ibu, dan anak-anak bisa hidup normal lagi. Sekolah jalan, puskesmas buka, pasar hidup,” ujar Mayjen Yudha pelan.
“Masyarakat Papua Pegunungan adalah keluarga besar Indonesia. Negara punya tanggung jawab menjemput, sampai ke pelosok paling jauh” ujarnya.
Air Mata di Balai Distrik
Kepala Distrik Ugimba, Penias Kogoya, menyambut dengan tangan bergetar. 15 tahun menunggu. 15 tahun merasa dilupakan jarak dan waktu.
“Kami mengucap syukur kepada Tuhan dan kepada negara,” katanya.
“Selama ini Ugimba jauh dari pemerintahan. Banyak kekurangan. Hari ini TNI datang. Rombongan Pangkoops bisa sampai. Kami bangga. Ini bukti negara tidak melupakan kami” lanjutnya.
Ia menunjuk anak-anak yang memeluk mainan baru.
“Ini bukan sekadar sembako dan babi. Ini tanda bahwa kami masih dianggap bagian dari Indonesia” unggahnya.
Pintu yang Terbuka Kembali
Kehadiran Koops TNI Habema di Ugimba bukan akhir cerita. Ini awal. Awal agar guru berani datang mengajar. Awal agar tenaga kesehatan berani tinggal. Awal agar hasil kebun bisa dijual keluar.
Di ketinggian Papua Tengah, di bawah dinginnya Cartenz, ada masyarakat yang selama ini bertahan dengan sabar. Kini mereka tidak bertahan sendirian lagi.
Negara sudah menembus batas alam. Tinggal kita jaga bersama agar pintu yang sudah terbuka ini, tidak tertutup lagi.
