MAKASSAR, tabloidnusantara. Lapas Kelas I Makassar memanfaatkan keterampilan kerja warga binaan di bidang garmen untuk memproduksi bendera dan umbul-umbul merah putih dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kepala Lapas Kelas I Makassar, Gumilar Budirahayu, mengatakan produksi tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan agar lingkungan lapas menggunakan umbul-umbul merah putih.
Menurutnya, seluruh proses produksi dilakukan di dalam lapas oleh warga binaan yang telah memiliki keterampilan menjahit.
”Kami memanfaatkan garmen yang kami punya dan warga binaan yang sudah bisa menjahit untuk membuat bendera dan umbul-umbul warna merah putih,” ujar Gumilar Kamis, (13/8).
Ia menyebut, kebutuhan umbul-umbul disesuaikan dengan luas lingkungan Lapas Kelas I Makassar yang mencapai sekitar 5.000 meter persegi. Selain untuk kebutuhan internal, pihaknya juga berencana mendukung lapas lain di Sulawesi Selatan yang membutuhkan bendera dan umbul-umbul merah putih.
Gumilar menambahkan, warga binaan yang terlibat dalam produksi akan mendapatkan premi sebagai bentuk penghargaan atas hasil kerja mereka.
Saat ini, sekitar 80 warga binaan terlibat dalam kegiatan garmen. Mereka tidak hanya memproduksi bendera dan umbul-umbul, tetapi juga menerima berbagai pesanan dari luar, termasuk jaket almamater.
Garmen Lapas Kelas I Makassar telah berjalan sejak 2020 melalui kerja sama dengan CV Amura Pratama. Dalam kerja sama tersebut, perusahaan menyediakan bahan baku untuk produksi jaket almamater, sementara lapas menyediakan tenaga kerja warga binaan.
”Untuk almamater, pihak ketiga yang menyiapkan bahan baku, sedangkan kami menyiapkan tenaga. Untuk umbul-umbul merah putih, bahan bakunya kami siapkan dan dikerjakan oleh warga binaan,” jelasnya.
Produksi garmen tersebut juga menjadi sarana pembinaan dan peningkatan keterampilan. Warga binaan dibekali kemampuan mulai dari membuat pola, mengukur hingga menjahit.
Gumilar mengatakan, pihaknya tengah mendorong agar warga binaan yang telah terampil nantinya mendapatkan sertifikat sebagai bukti kompetensi setelah menyelesaikan masa pidana.
Ia berharap keterampilan tersebut dapat menjadi bekal bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat.
”Mudah-mudahan ketika bebas, mereka punya skill, minimal bisa membuat pola dan menjahit pakaian. Itu sudah bisa menjadi bekal mereka di luar,” katanya.
Menurut Gumilar, sejumlah mantan warga binaan juga disebut telah melanjutkan kehidupan dengan bekerja sebagai penjahit setelah keluar dari lapas.
