Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
HANKAM

LENIS KOGOYA ULTIMATUM TPNPB-OPM DAN SEBBY SAMBOM: KELUAR DARI WAMENA DAN LAPAGO, STOP AKSI KEKERASAN DAN PEMBUNUHAN

WAMENA, tabloidnusantara. Seruan keras datang dari tokoh adat Pegunungan Tengah Papua yang juga merupakan Staff Khusus Kementerian Pertahanan bidang Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Lenis Kogoya. Dalam surat pemberitahuan yang ditujukan kepada Komnas TPNPB dan juru bicara Sebby Sambom, Lenis meminta TPNPB-OPM menghentikan seluruh aksi kekerasan di tanah Papua.

‎”Saya melarang keras saudara Sebby Sambom atau TPNPB-OPM membangun isu negatif melalui media massa, mengancam membunuh rakyat sipil dan pemerintah daerah,” tegas Lenis dalam pernyataannya, Minggu, 10 Agustus 2026.

‎Lenis merinci sejumlah aksi yang ia soroti terjadi akhir-akhir ini. Mulai dari pengecaman kekerasan, penyiksaan, pembunuhan, eksekusi mati terhadap warga sipil, pembunuhan misionaris, hingga pembakaran fasilitas sekolah. Ia juga menyebut ada pelarangan terhadap anak-anak untuk mengikuti upacara 17 Agustus.

‎”Pemerintah, wakil gubernur, bupati, wakil bupati dan tokoh-tokoh Merah Putih jadi target untuk dibunuh. Warga sipil mati dan anak-anak dilarang ikut 17-an untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Lenis.

Surat Pemberitahuan dan Ultimatum dari Lenis Kagoya, tokoh adat Pegunungan Tengah Papua yang juga merupakan Staff Khusus Kementerian Pertahanan bidang Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia kepada TPNPB-OPM dan Sebby Sambom.

3 Poin Tuntutan ke TPNPB-OPM

‎Dalam pernyataannya, Lenis menyampaikan 3 poin utama:

‎1. Stop Propaganda Kekerasan: Dilarang membangun isu negatif dan mengancam rakyat sipil serta pemerintah daerah melalui media massa.

‎2. Kosongkan Wamena dan Sekitarnya: Segera keluar dari ibukota Wamena dan wilayah sekitarnya agar tidak mengganggu aktivitas peringatan HUT RI ke-81 pada 17 Agustus 2026.

‎3. Hentikan Kekerasan : Segera hentikan pembunuhan dan penyiksaan antar orang asli Papua serta rakyat sipil.

‎Lenis menegaskan, jika 3 poin itu tidak dipenuhi maka pemilik hak ulayat dari 7 wilayah adat akan berkumpul dan memberikan ultimatum.

‎”Kalau tetap kekerasan, maka masyarakat pemilik hak ulayat 7 wilayah akan kumpul, akan bicarakan memberikan ultimatum kepada TPNPB-OPM dalam waktu tidak terlalu lama, dan atau kami kasih kutuk dan kami doakan supaya Anda bisa bertobat kembali,” katanya.

‎Diangkat Tokoh Adat dan Pernah Tolak Label Teroris

‎Lenis juga menyebut dirinya diangkat secara resmi oleh masyarakat adat Lapago pada tanggal 10, dipimpin Gubernur Parnabas Swebo, sebagai Ketua Lembaga Adat Tanah Papua. Ia merujuk ADART Pasal 9 yang menyebut tugasnya melindungi masyarakat sipil dan pemerintah di 17 wilayah adat.

‎Ia juga membuka sejarah dirinya pernah menolak pelabelan “teroris” untuk TPNPB-OPM. Menurutnya, saat isu itu muncul, ia bersama Paulus Waterpau dan tokoh-tokoh Papua membahasnya.

‎”Saya sendiri menyatakan sikap bahwa demi keselamatan masyarakat saya menyatakan menolak kalimat teroris. Akhirnya mengembalikan nama TPNPB-OPM,” kata Lenis.

‎Bahkan ia mengaku pernah menandatangani surat pernyataan penolakan kepada Presiden di Jakarta, disaksikan tokoh Papua dan anaknya Leon Kogoya.

‎”Tujuan saya hanya damai sejahtera. Saya melarang untuk bunuh orang, saya melarang untuk kebencian, saya melarang untuk kekerasan. Dengan saya taruh nyawa saya tanda tangan selamatkan OPM atau TPNPB atau KKB,” ucapnya.

‎Namun kini Lenis mengaku dirinya masuk Daftar Pencarian Orang oleh TPNPB. “Ternyata baru-baru ini saya di DPO kan, harus dibunuh. Itulah pernyataan yang dilakukan oleh Sebby Sambom,” ujarnya.

‎Serukan Damai dan Pembangunan

‎Lenis meminta masyarakat tidak panik dan tetap beraktivitas. Ia juga meminta TPNPB-OPM tidak bergabung dengan warga sipil di kota.

‎”Saya minta dengan hormat OPM ada di wilayah Lapago, jangan bergabung dengan masyarakat, jangan makan bersama dengan masyarakat. Harus jauh dari budaya adat dan jauh dari kota,” tegasnya.

‎Ia menutup pernyataannya dengan seruan agar Wamena segera dikosongkan dari aktivitas bersenjata demi keamanan anak-anak dan keluarga.

‎”Segera angkat kaki wilayah Wamena sekitarnya. Tidak boleh ada di situ. Anak-anak kami, keluarga kami, saudara kami, mereka menikmati kedamaian dan terasa aman di daerah masing-masing,” pungkas Lenis.

‎”Tuhan Yesus memberkati kita semua, salam damai.” Tutup Lenis, pada pernyataannya.