JAYAWIJAYA, tabloidnusantara. Dalam insiden penembakan di Festival Budaya Lembah Beliem (FBLB) pada Sabtu (8/8), TPNPB-OPM memberikan keterangan resminya sebagai motif dalam upaya mengacukan dan menggagalkan Perayaan HUT RI ke 81. Pada peristiwa tersebut, 2 orang menjadi korban penembakan dan mendapatkan perawatan di RSUD.
Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat -Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, mengakui secara terbuka bahwa aksi kekerasan tersebut bukanlah kejadian spontan, melainkan telah direncanakan matang-matang.
Sebby menegaskan bahwa penembakan yang terjadi sekitar pukul 12.50 WIT di Distrik Walesi itu merupakan bagian dari strategi operasi untuk mengirimkan pesan politik yang keras, khususnya terkait penolakan terhadap peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus. Hal tersebut tertulis dalam keterangannya, Minggu (9/8),
Sebby menjelaskan bahwa komando lapangan TPNPB Kodap III/Ndugama telah menerima instruksi khusus untuk melakukan gangguan keamanan di area lokasi FBLB.
Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa kelompok mereka masih memiliki kekuatan dan mampu menembus pengamanan ketat di tengah kerumunan massa.
“Penembakan ini sudah direncanakan. Kami tidak bertindak gegabah. Ini adalah bentuk perlawana,” ujar Sebby. la menambahkan bahwa pemilihan waktu dan lokasi dekat dengan festival budaya sengaja dilakukan.
Menargetkan Ideologis
Lebih lanjut, Sebby mengaitkan rencana penembakan ini dengan larangan keras bagi warga Papua untuk merayakan 17 Agustus. la menyatakan bahwa setiap elemen yang mendukung perayaan kemerdekaan RI, termasuk penyelenggara festival yang dianggapnya sebagai “wajah halus” pemerintahan Indonesia, adalah target sah.
“Kami sudah merencanakan ini untuk memastikan tidak ada ruang bagi perayaan 17 Agustus di Tanah Papua. Siapa pun yang terlihat merayakan, mengibarkan bendera, atau mendukung program pemerintah, akan menjadi target. Ini sudah menjadi perintah dari komando pusat,” tegasnya.
Pernyataan ini semakin mengerikan mengingat korban insiden adalah warga sipil biasa, Laode Muhammad Kojo (43) dan Salbiah (50), yang hanya berniat memasuki area festival. TPNPB tampaknya tidak membedakan antara aparat keamanan dan warga sipil dalam
