Rabu, 23 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BENCANA ALAM

JAWA TIMUR TERCATAT 552 KASUS POSITIF COVID-19, TERTINGGI DI SELURUH TANAH AIR

JAKARTA, “tabloidnusantara.com”. – Jawa Timur hari ini melaporkan penambahan kasus positif sebanyak 552 kasus. Data yang berhasil dikumpulkan oleh Gugus Tugas tersebut menjadikan provinsi Jawa Timur sebagai wilayah dengan jumlah penambahan kasus positif paling tinggi diantara seluruh provinsi di tanah air.

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram


JAKARTA, “tabloidnusantara.com”. – Jawa Timur hari ini melaporkan penambahan kasus positif sebanyak 552 kasus. Data yang berhasil dikumpulkan oleh Gugus Tugas tersebut menjadikan provinsi Jawa Timur sebagai wilayah dengan jumlah penambahan kasus positif paling tinggi diantara seluruh provinsi di tanah air.

Juru Bicara Pemerintah Untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyampaikan bahwa data tersebut diperoleh berdasarkan pemeriksaan spesimen sebanyak 21.054, sehingga jumlah total pemeriksaan spesimen sebanyak 915.482 spesimen. “Dari hasil pemeriksaan tersebut diperoleh 1.607 orang yang dinyatakan terkonfirmasi positif, sehingga secara akumulasi jumlah kasus positif menjadi 63.749 kasus,” jelas Yuri dalam konferensi pers di Gedung BNPB Jakarta, Minggu (6/7) sore.

Sebaran Covid-19

“Kalau
kita rinci lebih lanjut tentang kasus positif ini, karena ini adalah gambaran
rata-rata seluruh Indonesia tetapi tidak berarti seluruh provinsi memiliki hal
yang sama. Kita lihat beberapa provinsi yang hari ini melaporkan penambahan
kasus cukup tinggi yang pertama adalah Jawa Timur menambahkan kasus positif
baru terkonfirmasi sebanyak 552 kasus dan melaporkan 154 orang sembuh, DKI
Jakarta 257 kasus baru dan 286 orang sembuh, Jawa Tengah melaporkan 208 kasus
baru dan 50 orang sembuh, Sulawesi Selatan melaporkan 136 kasus baru dan 95
sembuh, Jawa Barat melaporkan 106 kasus baru dan 17 orang sembuh,” papar Yuri

Selain
itu terdapat 18 provinsi yang hari ini melaporkan penambahan kasus di bawah 10
dan ada 7 provinsi yang hari ini tidak ada penambahan kasus yakni Aceh,
Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur
dan Gorontalo.

Isolasi Mandiri atau Rumah Sakit

Penambahan kasus sejumlah 1.607 kasus positif
baru ini, menurut Yuri, tidak dimaknai bahwa seluruhnya masuk ke rumah sakit. Karena
sebagian besar dari kasus ini didapatkan dari hasil kontak tracing terhadap kasus positif yang kita rawat di rumah sakit kemudian
dilakukan kontak tracing pada orang
yang kita duga dan curigai tertular karena kontak erat dengan kasus positif
yang kita rawat. Kemudian dilakukan pemeriksaan secara masif dengan menggunakan
pemeriksaan antigen baik menggunakan Real
Time
(PCR) maupun menggunakan metode Test Cepat Molekuler (TCM). “Dari data
inilah kita mendapatkan kasus-kasus positif,” ungkap Yuri.

Menurut Yuri, sebagian dari
kasus positif ini, justru tidak menunjukkan gejala yang diindikasikan untuk
dirawat di rumah sakit. Oleh karena itu maka langkah yang paling tepat untuk
menangani kasus ini adalah melaksanakan isolasi secara mandiri dengan ketat. “Ini
menjadi penting, karena jika tidak dilaksanakan dengan baik akan menjadi sumber
penularan baru di tengah-tengah masyarakat,” lanjut Yuri.

“Kita harus menemukan kasus
konfirmasi positif dan kemudian melakukan isolasi, baik isolasi itu dilakukan
secara mandiri karena memang tidak ada indikasi untuk dirawat dirumah sakit
ataupun isolasi rumah sakit karena ada indikasi untuk dirawat. Dengan cara
seperti ini kita akan bisa memutuskan dan mengamankan yang bersangkutan  agar tidak menjadi sumber penularan bagi masyarakat
yang ada disekitarnya,” ucap Yuri.

Kasus Sembuh, ODP dan PDP

Dilaporkan
juga bahwa pasien sembuh per hari ini bertambah 886 orang, sehingga jumlah total
pasien sembuh menjadi 29.105 pasien sembuh. Angka sembuh secara total berada
pada 45,42% rata-rata nasional. Angka tesebut di bawah rata-rata global 56,71%.
Jika dilihat secara keseluruhan maka ada 11 provinsi sebenarnya yang memiliki angka
kesembuhan di atas 75%.

Sementara itu pasien
meninggal bertambah 82 total 3.171. Kematian akibat COVID-19 secara nasional
ada di angka 5% relatif tinggi jika dibandingkan dengan anga rata-rata dunia
yang mencapai 4,72 %.

Kasus
positif dan membutuhkan rawatan diyakini masih dapat ditampung di rumah sakit,
karena kita masih mempunyai daya tampung ruang isolasi yang cukup kapasitasnya.
Bed Occupation Rate atau tingkat
hunian rumah sakit/ tempat tidur isolasi secara nasional baru terisi 53,39%. “Maka
dari itu tidak ada ruang untuk merasa pesimis dalam menangani ini, namun mutlak
diperlukan upaya keras dari semua pihak untuk memutus rantai penularan Covid19,”
aja Yuri.

“Kami bersama gugus tugas
daerah melakukan upaya tracing dari kasus positif yang kami temukan. Kita
pastikan bahwa kemungkinan orang yang tertular dan menjadi sumber penularan di
tengah masyarakat bisa ditemukan melalui pemeriksaan yang masif,” kata dr.
Achmad.

Ia menambahkan bahwa hari
ini ada 453 kabupaten/kota di 34 provinsi telah terdampak dan masih banyak yang
harus dilakukan untuk memantau dengan ketat terhadap Orang Dalam Pemantauan
(ODP) sebanyak 39.928 orang dan mengawasi Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak
13.767 orang.

Jaminan Aktif dan Produktif

“Ini kewaspadaan yang
penting kita lakukan. Di balik itu semua kepatuhan terhadap pelaksanaan
protokol kesehatan menjadi kunci, menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci
tangan pakai sabun dan air yang mengalir adalah kunci untuk memutuskan rantai
penularan Covid-19,” katanya.

Di seluruh dunia melakukan hal yang sama dengan merubah kebiasaan-kebiasaan lama menjadi kebiasaan-kebiasaan yang baru yang memungkinkan kita aman dari penularan Covid-19. Dengan jaminan aman, memberikan kesempatan untuk aktif yang mengarah kepada kegiatan yang produktif.

Sumber Berita: https://covid19.go.id/ dan http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/