JAKARTA – Dalam rangka penanganan dan penanggulangan bencana
dengan melibatkan seluruh komponen, Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB) mengundang beberapa pihak yang terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah
Daerah, unsur TNI/Polri, Akademisi untuk menyamakan sinergi melalui diskusi
yang bertema “Sinergitas dan Kolaborasi Program Strategis Penanggulangan
Bencana” di Graha BNPB ruang Dr. Sutopo Purwonugroho, Graha BNPB, Jakarta,
Kamis (16/1).
Dalam sambutannya, Kepala BNPB mengajak seluruh yang hadir
agar selalu memiliki pemikiran yang dulu pernah dicetuskan Bung Karno tentang
pentingnya gotong royong dalam menyelesaikan persoalan bangsa dan negara.
Bahkan, orang nomor satu di BNPB itu juga mengatakan bahwa kegotong-royongan
tersebut merupakan implementasi dari metode “pentahelix” yang selama
ini telah dilakukan dalam penanggulangan bencana.
“Momentum hari ini menjadi titik awal untuk lebih
mengikat kekuatan kita sebagai bangsa lewat kerja sama, dan kita ingin
merangkum apa yang pernah disampaikan oleh Bung Karno yakni gotong royong.
Implementasi gotong royong pada hari ini adalah Pentahelix.” ujar Doni
Monardo.
TMC Salah Satu Bukti
Keberhasilan Pentahelix
Melalui kesempatan itu pula, Kepala BNPB juga mengatakan
bahwa bentuk dari sinergitas pentahelix tersebut sudah tercermin dari apa yang
dilakukan hingga detik ini seperti contohnya adalah operasi Teknologi
Modifikasi Cuaca (TMC) yang telah dan sedang diupayakan sebagai solusi banjir
dan longsor yang dipicu oleh faktor curah hujan tinggi.
Operasi TMC yang dilakukan sejak 3 Januari 2020 ini telah
melakukan sebanyak 34 sorti penerbangan dengan membawa sebanyak 57,6 ton bahan
semai naCl.
“TMC Merupakan ikhtiar, guna mencegah ancaman banjir
Jabodetabek. Upaya ini dilakukan dengan penuh perhitungan, dan risiko
tinggi.” Ujar Hammam Riza, kepala BPPT.
Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca ini juga bukan berarti
melawan kehendak alam, dengan meniadakan hujan. BPPT, BNPB, BMKG dan lembaga
terkait, berupaya optimal untuk menurunkan hujan di luar wilayah Jabodetabek,
seperti di area Laut Jawa dan Selat Sunda. Pemanfaatan TMC ini juga digunakan
untuk hal penting lainnya, mulai dari penanggulangan kabut asap akibat
Karhutla, mengatasi kekeringan, mengisi waduk utk PLTA, serta mengisi Daerah
Aliran Sungai.
Pada dasarnya TMC di Jabodetabek ini dilakukan untuk
mereduksi banjir, dengan cara menyemai awan yg berpotensi hujan, sebelum masuk
ke Jabodetabek. Evaluasi hasil penyemaian secara spasial menunjukan penerbangan
TMC sukses mempercepat proses hujan di sekitar Selat Sunda, sehingga potensi
hujan yang masuk ke Jabodetabek bisa dikurangi.
Dalam kesempatan yang sama, LAPAN juga memaparkan terkait
konstribusi LAPAN dalam penanggulangan bencana. LAPAN memberikan pelengkap yg
tidak disediakan oleh BMKG, yakni penyediaan satelit SADEWA (Satellite – based
Disaster Warning Early Warning), sebagai bagian dari ‘decision support’ sistem
kebencanaan. Kedua, pengembangan radar hujan yang saat ini sudah mendapatkan
SNI. BNPB sudah dan akan membangun 3 radar di Sukabumi, Bima dan Sorong.
Ketiga, penyediaan Sistem Informasi Mitigasi dan Bencana (SIMBA) dan Sistem
Pemantau Bumi Nasional berbasis Android (SIPANDORA) menggunakan analisis citra
satelit.
Beberapa program diatas merupakan kolaborasi pentahelix
dalam upaya penanganan bencana yang telah berjalan dan berhasil dibangun secara
sinergi dengan mengedepankan kepentingan masyarakat luas sebagai penerima
manfaatnya. Doni juga mengingatkan agar penanganan bencana harus seiring
sejalan dan tidak terkotak-kotak.
“Diharapkan dengan sinergitas semua unsur, maka
penanganan bencana tidak lagi terkotak-kotak dan berjalan
sendiri-sendiri.” Pungkas Doni.
Adapun rangkaian diskusi tersebut dihadiri oleh kepala BMKG, kepala BIG, kepala BPPT, kepala LAPAN, kepala Badan Geologi, dan perwakilan dari KLHK, BAPPENAS, LIPI, perguruan tinggi IPB, Kemenpar, World Bank, TNI, serta tim intelijen BNPB. (Sumber Humas BNPB)