Papua,
“tabloidnusantara.com” – Melihat situasi dan kondisi yang ada diwilayah Papua
tentunya banyak orang berfikir bahwa Papua adalah daerah yang rawan akan
konflik. Berbicara masalah konflik senjata yang terjadi di wilayah Papua
khususnya yang sedang hangat diperbincangkan di kabupaten Nduga-Papua seakan
tak ada habisnya. Banyak masyarakat yang menjadi korban dari kontak senjata
tersebut.
Hal
tersebut berkaitan dengan tanggapan Gubernur Papua Lukas Enembe saat mengenai
konflik bersenjata antara TNI dengan kelompok separatis pimpinan Egianus Kogoya
yang menyebabkan ribuan warga meninggalkan tempat tinggalnya. Ia juga
mengatakan yang terpenting saat ini adalah bagaimana pemerintah secara
komprehensif segera mengatasi masalah di Nduga dan masyarakat bisa kembali ke
tempat asalanya.
“Bukan
(penarikan pasukan), kita sudah sampaikan waktu itu. Saya tidak tahu berapa
lama ini akan berakhir, apakah mereka sudah habiskan OPM? Tentara bertugas
untuk kasih habis OPM, kalau mereka masih ada kapan berakhirnya,” tutur Lukas,
di Jayapura, Selasa (30/7/2019).
Pernyataan
dan tanggapan yang dilontarkan Lukas Enembe menerima komentar negatif serta
gagasan dari banyak pihak. Pernyataan tersebut lebih cenderung kepada menekan
aparat pemerintah dan aparat keamanan karena kurang komprehensif dalam mengurus
Papua, sedangkan jabatan Gubernur Papua merupakan jabatan yang sangat
berpengaruh dalam membangun Papua dan merupakan aparat pemerintahan.
Disisi
lain, TNI mengungkap adanya dugaan penyamaran anggota kelompok kriminal
bersenjata (KKB) Papua di tengah masyarakat Nduga, dugaan penyamaran anggota
KKB di wilayah Nduga, Papua, bisa saja menyamar dan berbaur di tengah
masyarakat.
“Bahkan,
dalam penyamarannya anggota KKB Papua dapat membaur dengan pejabat daerah, hingga
anggota lembaga swadaya masyarakat.
“Kalau
kita telisik lebih dalam pemberontak ini tersturktur dari bawah hingga sampai
atas, semua lini anggota KKB, bisa masuk menyamar sebagai rakyat biasa, pejabat
daerah, anggota dewan dan LSM. “Bisa saja mereka berbaur seperti ini. Walau itu
masih bersifat analisis pribadi
Mengenai
adanya ribuan warga yang meninggalkan tempat tinggalnya dan terdapat lebih dari
130 orang meninggal dalam pengungsian itu adalah berita tidak benar alias Hoack.
“Menurut data Jumlah korban meninggal dunia itu merupakan akumulasi dari awal
terjadinya konflik, dan Mereka yang meninggal dikarenakan sakit. Hal tersebut sudah
dijelaskan oleh Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI, Harry
Hikmat.
Sementara
itu, Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto, menyampaikan bahwa, soal
pergerakan masyarakat besar-besaran dari Nduga ke-wilayah lain itu memang
benar. “Tapi mereka bukan mau mengungsi melainkan berpindah tempat untuk
mencari lahan berburu dan bercocok tanam yang baru, lahan yang subur untuk
ditanami, yang artinya (Pola Hidup Meramu) kalau bahasa kerenya berimigrasi. “Ujarnya
Kapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Cpl Eko Daryanto.