Kediri, Jawatimur, “https://tabloidnusantara.com/” – Pemerintah Indonesia mengakui ‘gejala lain’ dari pasien Covid-19 yang disebut sebagai happy hypoxia. Gejala yang disebut seorang dokter sebagai peringatan merah bagi pasien Covid-19, termasuk yang mengalami gejala ringan.
Namun, sejumlah
peneliti mengatakan happy hypoxia bisa jadi disebabkan virus yang telah merusak
jaringan otak, sehingga sensor terhadap sistem tubuh terganggu.
Dikutip dari “https://www.bbc.com/” Tri Maharani adalah penyintas Covid-19, yang bertugas sebagai kepala unit gawat darurat di Rumah Sakit Daha Husada, Kediri, Jawa Timur.
Baca juga : CEGAH PENYALAGUNAAN NARKOBA DILINGKUNGAN TNI, KOREM 173/PVB GELAR KEGIATAN P4GN
Ia terinfeksi virus
corona awal Juni lalu. Hari-hari pertama terinfeksi, ia tak mengalami gejala. Tapi
setelah pemeriksaan, kadar oksigen dalam darahnya (saturasi) berada di bawah
ambang batas normal.
“Kondisinya
baik-baik saja, tapi pas dicek saturasi, saturasinya rendah, kemudian di-foto
ulang, ternyata pneumonia saya jadi lebih berat lagi,” kata kata dokter
Tri Maharani, Selasa (08/09).
Dokter khusus
penanganan medis darurat ini meyakini, sempat mengalami kondisi happy hypoxia.
“Memang di
hari-hari awal itu saya tidak mengalami keluhan sama sekali. Saya baru
mengalami keluhan itu lima hari. Setelah dirawat,” katanya.
Istilah happy hypoxia
baru-baru ini menjadi perbincangan publik. Sebuah gejala hening yang membuat
orang yang terinfeksi Covid-19, tanpa sadar tubuhnya mengalami kekurangan
oksigen, sehingga dapat menimbulkan hilang kesadaran, koma hingga kematian
secara tiba-tiba.
Riset mengenai kondisi pasien Covid-19 dengan happy hypoxia sudah diteliti sejak beberapa bulan lalu.
Baca Juga : BABINSA TERUS AJAK WARGA YAPEN PATUHI PROTOKOL KESEHATAN
Di Jawa Tengah,
pejabat setempat menyebut rata-rata pasien Covid-19 di sana mengalami gejala
Happy Hypoxia.
Namun, juru bicara Satgas Covid-19 Jawa Tengah mengatakan, Happy Hypoxia bukan hanya di Jawa Tengah, tapi dapat terjadi terhadap seluruh pasien Covid-19 di seluruh dunia.
(adm)