ZOHRI MENYEMAI MIMPI BESARNYA

0
286
Dok. Sprinter Lalu Muhammad Zohri, menjelma menjadi sprinter terbaik nasional pada usia 18 tahun

DOHA — Sprinter Lalu Muhammad Zohri baru bergabung dalam pemusatan latihan nasional atletik pada Desember 2017. Namun,  perkembangan pelari asal Nusa Tenggara Barat itu sangat pesat dan menjelma menjadi sprinter terbaik nasional pada usia 18 tahun.

Rekor nasional 10,13 detik dan medali perak nomor 100 meter pada Kejuaraan Asia Atletik 2019 di Doha, Qatar, 21-24 April, menegaskan potensi besar Zohri. Ia mulai dipantau tim pelatih PB PASI ketika juara 100 meter pada Kejuaraan Antar-PPLP 2017 di Papua. Ia ditarik ke pelatnas pada Desember 2017. Saat itu, waktu terbaiknya 10,30 detik.

Dalam waktu tujuh bulan Zohri bisa mempertajam waktu terbaiknya menjadi  10,18 detik saat juara 100 meter pada Kejuaraan Dunia U-20 di Finlandia. Berselang sembilan bulan kemudian, pelari bertinggi 172 sentimeter itu sudah memecahkan rekor nasional sekaligus Asia Tenggara atas nama Suryo Agung Wibowo dengan 10,17 detik.

Di semifinal, Senin (22/4) malam WIB, Zohri memecahkan rekor milik Suryo Agung dengan catatan waktu 10,15 detik. Tak berselang lama, di final, dia mempertajam rekor itu menjadi 10,13 detik sekaligus meraih medali perak pada Selasa (23/4) dini hari WIB. Zohri finis di belakang pelari Jepang, Yoshihide Kiryu, dengan waktu 10,10 detik, dan di depan pelari China, Wu Zhiqiang, dengan 10,18 detik.

Hasil itu menunjukan perkembangan pesat Zohri. Dia hanya perlu 16 bulan untuk mempertajam catatan waktu terbaiknya hingga 0,17 detik. Sebagai pembanding, Suryo Agung perlu sekitar tiga tahun untuk mempertajam waktunya hingga 0,17 detik, dari sekitar 10,41 detik saat pertama dilatih oleh pelatih sprint PB PASI, Eni Nuraini, pada 2006 menjadi 10,17 detik pada 2009 saat berusia 26 tahun.

Menurut Eni, kelebihan Zohri yang menjadi bawaan badannya dan tidak dimiliki oleh kebanyakan pelari nasional adalah langkah kaki yang panjang dan kaki yang selalu naik ke atas dari start hingga finis.

Dengan kata lain, Zohri punya kelebihan pada frekuensi langkah kaki dan daya tahan kecepatan dari awal hingga akhir perlombaan. ”Biasanya pelari nasional itu kalau awal lari kakinya masih naik, tetapi kalau sudah mendekati finis sudah enggak naik lagi. Padahal, kaki naik itu juga memengaruhi frekuensi langkah kaki dan daya tahan kecepatan,” tutur Eni, peraih penghargaan Pelatih Atletik Terbaik Asia 2019 dari Asosiasi Atletik Asia itu.

Zohri dihubungi dari Jakarta, Selasa, mengatakan, dirinya tidak pernah menargetkan meraih medali ataupun memecahkan rekor. ”Saya hanya fokus saja lari sebaik dan serileks mungkin. Saya berusaha lebih baik dari sebelumnya,” ujar Zohri yang berlatih lari sejak usia 14 tahun.

Proses latihan

Pencapaian Zohri di Doha memang di luar prediksi. Itu karena ketika juara 100 meter pada Grand Prix Malaysia Terbuka, 30-31 Maret, catatan waktunya hanya 10,20 detik. ”Bisa masuk final saja sudah sangat baik, tetapi ini dia bisa dapat perak dan memecahkan rekornas,” kata Eni.

Selain itu, Zohri juga tidak bisa menunjukkan gelagat berlatih keras dalam empat bulan ini. Bahkan, sebulan terakhir, ia lebih banyak disibukkan dengan persiapan hingga mengikuti ujian sekolah dan ujian nasional. Dua pekan menjelang Kejuaraan Asia, Zohri fokus ikut ujian nasional yang dilaksanakan di SKO Ragunan, Jakarta.

Ia baru mulai berlatih ringan pada Jumat (5/4) dan menjalani program utama latihan mulai Jumat (12/4), yakni mengikuti latihan start block. Itu pun dia tidak memforsir latihan karena mengalami pegal-pegal di pinggul dan paha selepas pulang dari Malaysia.

Zohri juga belum memperbaiki kelemahannya pada reaksi start. Akibatnya, dalam beberapa kali latihan ataupun perlombaan, dirinya selalu tertinggal di 30 meter awal dan baru mulai menyusul setelah lintasan 40 meter.

Ketika kerap kali diberi masukan oleh Eni, dengan santai ia selalu menjawab akan lebih baik saat lomba. ”Tenang saja Bu, waktu lomba saya akan lebih baik,” ujar Eni menirukan jawaban Zohri kepadanya.

Kini, Zohri masih memiliki target yang lebih besar, yaitu lolos ke Olimpiade Tokyo 2020. Artinya, dia perlu menembus limit waktu 10,05 detik dan masuk peringkat 56 dunia supaya bisa tampil di Olimpiade. ”Saya ingin sekali tampil di Olimpiade 2020,” ujar Zohri.

Tinggalkan Balasan