TIDAK BERSINERGINYA PENANGANAN KONFLIK, MASYARAKAT NDUGA TERSANDERA ANCAMAN KKB

0
103
Gubernur Papua Lukas Enembe Di Dampingi Bupati Nduga

Papua, “tabloidnusantara.com” – Melihat situasi dan kondisi yang ada diwilayah Papua tentunya banyak orang berfikir bahwa Papua adalah daerah yang rawan akan konflik. Berbicara masalah konflik senjata yang terjadi di wilayah Papua khususnya yang sedang hangat diperbincangkan di kabupaten Nduga-Papua seakan tak ada habisnya. Banyak masyarakat yang menjadi korban dari kontak senjata tersebut.

Hal tersebut berkaitan dengan tanggapan Gubernur Papua Lukas Enembe saat mengenai konflik bersenjata antara TNI dengan kelompok separatis pimpinan Egianus Kogoya yang menyebabkan ribuan warga meninggalkan tempat tinggalnya. Ia juga mengatakan yang terpenting saat ini adalah bagaimana pemerintah secara komprehensif segera mengatasi masalah di Nduga dan masyarakat bisa kembali ke tempat asalanya.

“Bukan (penarikan pasukan), kita sudah sampaikan waktu itu. Saya tidak tahu berapa lama ini akan berakhir, apakah mereka sudah habiskan OPM? Tentara bertugas untuk kasih habis OPM, kalau mereka masih ada kapan berakhirnya,” tutur Lukas, di Jayapura, Selasa (30/7/2019).

Pernyataan dan tanggapan yang dilontarkan Lukas Enembe menerima komentar negatif serta gagasan dari banyak pihak. Pernyataan tersebut lebih cenderung kepada menekan aparat pemerintah dan aparat keamanan karena kurang komprehensif dalam mengurus Papua, sedangkan jabatan Gubernur Papua merupakan jabatan yang sangat berpengaruh dalam membangun Papua dan merupakan aparat pemerintahan.

Disisi lain, TNI mengungkap adanya dugaan penyamaran anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua di tengah masyarakat Nduga, dugaan penyamaran anggota KKB di wilayah Nduga, Papua, bisa saja menyamar dan berbaur di tengah masyarakat.

“Bahkan, dalam penyamarannya anggota KKB Papua dapat membaur dengan pejabat daerah, hingga anggota lembaga swadaya masyarakat.

“Kalau kita telisik lebih dalam pemberontak ini tersturktur dari bawah hingga sampai atas, semua lini anggota KKB, bisa masuk menyamar sebagai rakyat biasa, pejabat daerah, anggota dewan dan LSM. “Bisa saja mereka berbaur seperti ini. Walau itu masih bersifat analisis pribadi

Mengenai adanya ribuan warga yang meninggalkan tempat tinggalnya dan terdapat lebih dari 130 orang meninggal dalam pengungsian itu adalah berita tidak benar alias Hoack. “Menurut data Jumlah korban meninggal dunia itu merupakan akumulasi dari awal terjadinya konflik, dan Mereka yang meninggal dikarenakan sakit. Hal tersebut sudah dijelaskan oleh Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI, Harry Hikmat.

Sementara itu, Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto, menyampaikan bahwa, soal pergerakan masyarakat besar-besaran dari Nduga ke-wilayah lain itu memang benar. “Tapi mereka bukan mau mengungsi melainkan berpindah tempat untuk mencari lahan berburu dan bercocok tanam yang baru, lahan yang subur untuk ditanami, yang artinya (Pola Hidup Meramu) kalau bahasa kerenya berimigrasi. “Ujarnya Kapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Cpl Eko Daryanto.

Tinggalkan Balasan