SOAL PANGAN, PAPUA MASIH DIKATAKAN AMAN

0
39
Doc:/Dinas Ketahanan Pangan

Jayapura, tabloidnusantara.comKepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Papua, Robert Eddy Purwoko, memastikan, Bumi Cenderawasih masih aman soal pangan.

“Pemetaan yang kami buat, memang sejak beberapa tahun lalu kondisi di Papua masih dikatergorikan merah (rawan pangan). Tetapi tidak semua (wilayah) krisis akan pangan,” kata Robert, Senin, 16 Desember 2019.

Robert mengatakan kerawanan pangan yang dimaksud Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Papua, bukan soal kuantitas. Kerawanan dipicu kondisi alam yang membuat distribusi pangan ke masyarakat mengalami hambatan.

“Pangan kita cukup. Hanya saja akses-akses terhadap aspek lainnya tidak memenuhi atau masih terbatas. Otomatis rapornya masih merah,” ujarnya.

Selain itu, ukuran kerawanan pangan yang dikategorikan Kementerian Pertanian terhadap Papua terbatas pada sumber pangan karbohidrat dari serealia atau padi-padian. Padahal makanan pokok utama masyarakat Papua bukanlah nasi.

“Kalau itu dikonversi ke sagu atau ubi jalar jelas Papua akan berlebih soal pangan,” jelasnya.

Menurut Robert, lahan sagu di Papua merupakan yang terbesar di dunia. Jumlahnya sekitar 2,5 juta hektare.

“Ini yang belum diperhitungkan Kementerian Pertanian dalam hal ketersediaan pangan kita,” tegas Robert.

Ia menambahkan di Papua, sagu sudah masuk dalam pangan strategis nasional selain padi, jagung, dan kedelai. Dengan demikian, alokasi anggaran untuk pengembangan dan pemanfaatan sagu bisa ditingkatkan.

“Satu juta hektare sagu kalau dimanfaatkan dengan baik bisa memberi makan satu Indonesia. Apalagi, sagu mempunyai kandungan indeks gula yang rendah ketimbang beras. Saat ini, lahan sagu terbanyak di Papua ada di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Mappi, Asmat, dan Mimika,” pungkasnya.

Sumber: medcom.id

Tinggalkan Balasan