SKENARIO UNTUK ATASI MACET

0
44
Untuk mengurai kepadatan di Tol Trans-Jawa, Korps Lalu Lintas Polri memberlakukan sistem satu arah (one way) mulai Kilometer 70 Cikampek sampai Kilometer 263 dan sistem lawan arus (contraflow) mulai Km 29 hingga Km 61

JAKARTA – Pemerintah menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi kemacetan di Jalan Tol Trans-Jawa dan jalur pantai utara Jawa selama masa mudik Lebaran. Puncak kepadatan arus mudik diperkirakan terjadi antara 30 Mei atau enam hari menjelang Lebaran (H-6) dan 2 Juni mendatang (H-3).

Untuk mengurai kepadatan di Tol Trans-Jawa, Korps Lalu Lintas Polri memberlakukan sistem satu arah (one way) mulai Kilometer 70 Cikampek sampai Kilometer 263 dan sistem lawan arus (contraflow) mulai Km 29 hingga Km 61. Skema lalu lintas tersebut diterapkan pada 30 Mei hingga 2 Juni pada pukul 09.00-21.00.

Selain itu, pemerintah juga menambah tempat istirahat di Tol Trans-Jawa dan memberikan diskon tarif di seluruh ruas tol pada 27-29 Mei. Pemerintah juga menerapkan pembatasan kendaraan barang pada 30 Mei hingga 2 Juni.

Jika masih terjadi kemacetan, Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Inspektur Jenderal Refdi Andri mengatakan, rekayasa lalu lintas yang diterapkan bersifat situasional. Hal ini berdasarkan pada kondisi lalu lintas di setiap jalur saat masa mudik dan balik, baik di jalur tol maupun non-tol.

”Ada beragam rekayasa yang bisa diterapkan, misalnya kebijakan untuk jalan terus, pengalihan arus, dan lainnya. Namun, rekayasa tersebut harus disertai dengan rambu dan imbauan yang jelas,” kata Refdi seusai melepas tim Mudik Gesit Kompas Gramedia 2019, di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (28/5/2019).

Berdasarkan pengamatan Kompas, sejumlah titik di Tol Trans-Jawa yang berpotensi terjadi kemacetan adalah Simpang Cikunir di Km 10 karena ada pertemuan arus dari Jalan Tol Lingkar Luar (JORR) dan Jalan Tol Jakarta-Cikampek.

Selain itu, sejumlah titik yang berpotensi terjadi kemacetan adalah gerbang tol transaksi, seperti Gerbang Tol (GT) Cikampek Utama, GT Palimanan, GT Kali Kangkung, GT Banyumanik, GT Waru Gunung, dan GT Sidoarjo.

”Kebijakan apa pun di lapangan itu berdasarkan analisis, pencermatan, dan evaluasi. Katakanlah ada kepadatan sepanjang 3-5 kilometer, maka akan kami lakukan contraflow. Jika itu tidak bisa mengatasi kemacetan, kami sepakati one way berlaku,” kata Refdi.

Selain Simpang Cikunir dan GT transaksi, tempat istirahat atau rest area juga diwaspadai sebagai titik rawan macet. Di ruas Tol Jakarta-Cikampek, tempat istirahat yang kerap menyebabkan kemacetan ada di Kilometer 19, Km 39, dan Km 57 serta rest area di Tol Palikanci.

”Penyebab kemacetan karena kendaraan yang akan masuk rest area melebihi kapasitas daya tampung,” ujar Manajer Pelayanan Lalu Lintas PT Jasa Marga Cabang Tol Palikanci Agus Hartoyo.

Tempat beristirahat

Pada arus mudik tahun lalu, misalnya, lebih dari 900 kendaraan antre masuk ke area peristirahatan dengan daya tampung 700 kendaraan. Oleh karena itu, menurut Agus, pihaknya bersama Polri akan membatasi penggunaan tempat istirahat dan memberlakukan sistem buka-tutup.

”Kami menginformasikan kepada pengendara agar menggunakan area istirahat maksimal satu jam. Kalau 50 kendaraan sudah keluar, rest area akan dibuka lagi,” ucap Agus.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan, ada kekhawatiran pemberlakuan satu arah dari Kilometer 70 hingga Kilometer 263 akan berdampak terhadap kepadatan jalur pantura. Namun, Budi mengatakan jalur pantura dalam keadaan baik sehingga diperkirakan mampu menampung kendaraan pemudik bermotor dan kendaraan yang keluar tol.

Tinggalkan Balasan