Pentahelix, Implementasi Gotong Royong Penanganan Bencana Masa Kini

0
22

JAKARTA – Dalam rangka penanganan dan penanggulangan bencana dengan melibatkan seluruh komponen, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengundang beberapa pihak yang terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, unsur TNI/Polri, Akademisi untuk menyamakan sinergi melalui diskusi yang bertema “Sinergitas dan Kolaborasi Program Strategis Penanggulangan Bencana” di Graha BNPB ruang Dr. Sutopo Purwonugroho, Graha BNPB, Jakarta, Kamis (16/1).

Dalam sambutannya, Kepala BNPB mengajak seluruh yang hadir agar selalu memiliki pemikiran yang dulu pernah dicetuskan Bung Karno tentang pentingnya gotong royong dalam menyelesaikan persoalan bangsa dan negara. Bahkan, orang nomor satu di BNPB itu juga mengatakan bahwa kegotong-royongan tersebut merupakan implementasi dari metode “pentahelix” yang selama ini telah dilakukan dalam penanggulangan bencana.

“Momentum hari ini menjadi titik awal untuk lebih mengikat kekuatan kita sebagai bangsa lewat kerja sama, dan kita ingin merangkum apa yang pernah disampaikan oleh Bung Karno yakni gotong royong. Implementasi gotong royong pada hari ini adalah Pentahelix.” ujar Doni Monardo.

TMC Salah Satu Bukti Keberhasilan Pentahelix

Melalui kesempatan itu pula, Kepala BNPB juga mengatakan bahwa bentuk dari sinergitas pentahelix tersebut sudah tercermin dari apa yang dilakukan hingga detik ini seperti contohnya adalah operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang telah dan sedang diupayakan sebagai solusi banjir dan longsor yang dipicu oleh faktor curah hujan tinggi.

Operasi TMC yang dilakukan sejak 3 Januari 2020 ini telah melakukan sebanyak 34 sorti penerbangan dengan membawa sebanyak 57,6 ton bahan semai naCl.

“TMC Merupakan ikhtiar, guna mencegah ancaman banjir Jabodetabek. Upaya ini dilakukan dengan penuh perhitungan, dan risiko tinggi.” Ujar Hammam Riza, kepala BPPT.

Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca ini juga bukan berarti melawan kehendak alam, dengan meniadakan hujan. BPPT, BNPB, BMKG dan lembaga terkait, berupaya optimal untuk menurunkan hujan di luar wilayah Jabodetabek, seperti di area Laut Jawa dan Selat Sunda. Pemanfaatan TMC ini juga digunakan untuk hal penting lainnya, mulai dari penanggulangan kabut asap akibat Karhutla, mengatasi kekeringan, mengisi waduk utk PLTA, serta mengisi Daerah Aliran Sungai.

Pada dasarnya TMC di Jabodetabek ini dilakukan untuk mereduksi banjir, dengan cara menyemai awan yg berpotensi hujan, sebelum masuk ke Jabodetabek. Evaluasi hasil penyemaian secara spasial menunjukan penerbangan TMC sukses mempercepat proses hujan di sekitar Selat Sunda, sehingga potensi hujan yang masuk ke Jabodetabek bisa dikurangi.

Dalam kesempatan yang sama, LAPAN juga memaparkan terkait konstribusi LAPAN dalam penanggulangan bencana. LAPAN memberikan pelengkap yg tidak disediakan oleh BMKG, yakni penyediaan satelit SADEWA (Satellite – based Disaster Warning Early Warning), sebagai bagian dari ‘decision support’ sistem kebencanaan. Kedua, pengembangan radar hujan yang saat ini sudah mendapatkan SNI. BNPB sudah dan akan membangun 3 radar di Sukabumi, Bima dan Sorong. Ketiga, penyediaan Sistem Informasi Mitigasi dan Bencana (SIMBA) dan Sistem Pemantau Bumi Nasional berbasis Android (SIPANDORA) menggunakan analisis citra satelit.

Beberapa program diatas merupakan kolaborasi pentahelix dalam upaya penanganan bencana yang telah berjalan dan berhasil dibangun secara sinergi dengan mengedepankan kepentingan masyarakat luas sebagai penerima manfaatnya. Doni juga mengingatkan agar penanganan bencana harus seiring sejalan dan tidak terkotak-kotak.

“Diharapkan dengan sinergitas semua unsur, maka penanganan bencana tidak lagi terkotak-kotak dan berjalan sendiri-sendiri.” Pungkas Doni.

Adapun rangkaian diskusi tersebut dihadiri oleh kepala BMKG, kepala BIG, kepala BPPT, kepala LAPAN, kepala Badan Geologi, dan perwakilan dari KLHK, BAPPENAS, LIPI, perguruan tinggi IPB, Kemenpar, World Bank, TNI, serta tim intelijen BNPB. (Sumber Humas BNPB)

Tinggalkan Balasan