Rabu, 23 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

PENELUSURAN CERITA GUBERNUR JAWA BARAT DENGAN KEPALA DESA UNTUK KASUS KEMATIAN SATPAM WADUK JATILUHUR

PURWAKARTA, tabloidnusantara. Peristiwa dan teka-teki akan kematian ‎Sumarna (42), petugas keamanan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, masih terus membuat tanda tanya besar bagi masyarakat. Hingga kini kepolisian masih terus melakukan pengungkapan akan kasus tersebut.

‎Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berbincang dengan Kepala Desa dan warga setempat mengenai rangkaian aktivitas terakhir korban.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertemu dengan keluarga Sumarna, petugas keamanan waduk Jatiluhur.

‎Menurutnya, korban disebut masih terlihat hidup sekitar pukul 02.30 WIB oleh warga sebelum ditemukan tewas dengan kedua tangan terborgol.

‎Menurut keterangan kepala desa, seorang warga yang hendak pergi ke pasar mengaku melihat Sumarna melakukan gerakan seperti peregangan tubuh pada dini hari.

‎”Jam setengah 3 ada warga pergi ke pasar masih melihat almarhum. Dia lagi gini-gini (streching) di sana,” ungkap kepala desa.

‎Mendengar keterangan itu, Dedi menduga peristiwa yang menyebabkan korban meninggal terjadi menjelang atau saat subuh.

‎”Subuh berarti (diduga dibunuh),” ujar Dedi.

‎Namun, perkiraan tersebut belum menjadi kesimpulan resmi kepolisian. Polisi masih menyelidiki waktu, penyebab, dan rangkaian peristiwa sebelum Sumarna ditemukan meninggal dunia di perairan Waduk Jatiluhur pada Jumat (24/7/2026).

Istri (alm ) Sumarna petugas keamanan waduk Jatiluhur.

‎Cerita Istri Korban

‎Istri korban mengatakan, Sumarna berpamitan untuk menjalankan tugas jaga malam sekitar pukul 19.00 WIB.

‎Korban kemudian diketahui berada di kawasan tanggul Waduk Jatiluhur untuk bekerja sebagai petugas keamanan. Sekitar pukul 21.00 WIB, Sumarna disebut meninggalkan pos penjagaan dengan menggunakan sepeda motor. Informasi tersebut diketahui setelah sejumlah warga mendatangi pos untuk mencari korban.

‎Menurut kepala desa, warga hendak menemui Sumarna karena ingin meminta uang pengganti pembayaran BPJS Ketenagakerjaan yang berada dalam penguasaannya.

‎Sekitar pukul 23.00 WIB, warga tiba di pos dan memperoleh informasi bahwa Sumarna telah meninggalkan lokasi sejak pukul 21.00 WIB.

“Mereka sekitar jam 11 pada ke pos, kan di pos banyak anak muda di sana ada yang suka parkir. Katanya dari jam 9 pak Marna udah enggak ada,‎” ungkap kepala desa.

Warga bersama anggota perlindungan masyarakat kemudian sempat mencari korban di sekitar kawasan tersebut.

“Linmas nyari di situ tapi enggak ketemu sampai ke Gardu Induk. Malamnya si ibu nyari,” ujar kepala desa

‎”Jam setengah 12 udah enggak ada di pos,” timpal Dedi.

‎Pencarian pada malam itu tidak berlangsung lama karena sepeda motor Sumarna juga tidak berada di sekitar pos.

‎Warga menduga korban sedang pergi ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan tersebut.

‎Dedi kemudian menanyakan apakah pencarian dilakukan setelah korban diketahui tidak berada di tempat kerja.

‎”Berarti malam itu sudah dilakukan pencarian? ketika di pos enggak ada enggak di cari?” tanya Dedi.

‎”Kan sama motornya enggak ada. Mungkin dipikir lagi ke mana,” ujar kepala desa.

‎Keberadaan sepeda motor korban kemudian menjadi salah satu bagian yang dinilai janggal dalam rangkaian kejadian tersebut.

‎Kepala desa mengatakan, kendaraan itu belakangan ditemukan kembali di dekat pos penjagaan.

‎Pernyataan kepala desa mengenai dugaan pembunuhan tersebut masih berupa dugaan dan belum dikonfirmasi sebagai kesimpulan penyidik.

‎Istri Datangi Pos Tengah Malam 

Istri Sumarna juga sempat mendatangi pos penjagaan pada malam hingga dini hari untuk mencari suaminya.

‎Saat pertama kali tiba, ia tidak menemukan korban maupun sepeda motor yang biasa digunakan Sumarna.

‎”Ibu nyusul jam berapa? Jam setengah 12 Ibu ke situ?” tanya Dedi.

‎”Waktu malam ke situ,” jawab istri korban.

‎”Setengah 12 motornya ada?” tanya Dedi. “Enggak ada,” ujar istri korban.

‎Dedi kemudian menyimpulkan bahwa korban memang sempat meninggalkan pos dengan sepeda motor, meski belum diketahui tujuan maupun siapa yang ditemui Sumarna.

‎”Jadi Si Bapak itu meninggalkan pos pakai motor keluar dulu, tinggal ke luarnya sama siapa kita tidak tahu,” ungkap Dedi.

‎”Keluarnya sendiri,” kata kepala desa. Dedi kembali mempertanyakan tujuan korban meninggalkan pos pada pukul 21.00 WIB.

‎”Ketika dia meninggalkan pos dia ke mana?” tanya Dedi.

‎”Nah itu dia yang diselidiki penyidik,” ujar kepala desa.

‎Disebut Terlihat Pukul 02.30 WIB Di tengah ketidakjelasan keberadaan Sumarna, muncul keterangan warga yang mengaku melihat korban sekitar pukul 02.30 WIB.

‎Saat itu, Sumarna disebut masih hidup dan terlihat melakukan gerakan peregangan di sekitar kawasan tempatnya bertugas.

‎Kesaksian tersebut menjadi salah satu informasi penting untuk memperkirakan waktu terakhir korban terlihat dalam keadaan hidup.

‎Apabila keterangan itu benar, peristiwa yang menyebabkan Sumarna meninggal diduga terjadi setelah pukul 02.30 WIB dan sebelum jasadnya ditemukan.

‎Namun, belum dijelaskan siapa warga yang melihat korban, lokasi persis pertemuan, maupun apakah keterangan tersebut telah dituangkan secara resmi dalam pemeriksaan kepolisian.

‎Penentuan waktu kematian tetap memerlukan pemeriksaan medis, hasil autopsi, keterangan saksi, dan bukti lain yang dikumpulkan penyidik.

‎Kedua tangannya ditemukan dalam kondisi terborgol ke belakang. Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya tindak pidana dalam kematian korban.

‎Namun, hingga kini, polisi belum menetapkan tersangka maupun mengumumkan kesimpulan resmi mengenai penyebab kematian Sumarna.

‎Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara juga membantah informasi yang beredar di media sosial bahwa pelaku telah ditangkap.

‎”Belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Informasi yang beredar di media sosial itu tidak benar, belum ada yang kami amankan,” kata Made.

‎Polisi Periksa 15 Saksi Polres Purwakarta telah meminta keterangan dari 15 orang terkait kematian Sumarna. Para saksi berasal dari lingkungan keluarga, rekan kerja, orang terdekat korban, dan warga yang berada di sekitar lokasi kejadian.

‎Penyidik juga mendalami pergerakan korban sejak meninggalkan pos sekitar pukul 21.00 WIB, keberadaan sepeda motor yang sempat tidak terlihat, serta kesaksian warga yang mengaku melihat Sumarna pada pukul 02.30 WIB.

‎Polisi belum mengungkap apakah keterangan para saksi telah menghasilkan petunjuk mengenai pihak yang terakhir bertemu dengan korban.

‎Selain memeriksa saksi, penyidik sebelumnya telah mengamankan telepon genggam, sepeda motor, pakaian, sepatu, dan alat komunikasi milik Sumarna.

‎Rekaman kamera pengawas di sekitar kawasan operasional Perum Jasa Tirta II juga diperiksa untuk mencocokkan pergerakan korban dengan keterangan saksi.

‎Hingga kini, perkiraan bahwa Sumarna meninggal menjelang subuh masih berupa analisis berdasarkan keterangan warga, bukan kesimpulan resmi dari polisi maupun hasil pemeriksaan medis.

‎Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan waktu kematian, penyebab meninggalnya korban, serta pihak yang bertanggung jawab atas kematian satpam Waduk Jatiluhur tersebut.