MEGA PROYEK TOL SOLO-JOYA AGAR PERHATIKAN NASIB PERA PETANI DAN SUMBER ALAM

0
56
Ilustrasi jalan tol solo-joya

KLATEN, “tabloidnusantara.com” – Melalui jaringan Video Conference, Pemkab Klaten beserta  jajaran melaksanakan Sidang Komisi Andal, membahas analisis dampak lingkungan dari pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) jalan tol Solo – Yogyakarta.

Sekretaris Daerah Klaten Jaka Sawaldi, pada saat memimpin rapat menyampaikan bahwa, isu yang berkembang dibidang pertanian lestari, menjadi persoalan yang menonjol selain menyangkut keberadaan jalur irigasi dan sumber air, tetapi juga nasib petani kedepannya.

BACA JUGA : PT CHAROEN POKPHAND JAYA FARM KUCURKAN 1.500 BUTIR TELUR UNTUK TENAGA MEDIS KAB. SUKOHARJO

Jalur yang dilalui mega proyek jalan tol Solo – Yogyakarta, salah satunya “Lereng Merapi yang  menjadi daerah resapan air dari atas untuk memenuhi pengairan lahan pertanian. “ujarnya.

Sidang dihadiri 10 camat, 48 kepala dan delapan tokoh masyarakat Kabupaten Klaten, dan terbagi dalam empat titik lokasi, Video Conference, untuk mendengarkan penjelasan konsultan PT Adi Karya selaku pelaksana proyek.

Disisi lain sidang tersebut juga bertujuan untuk menampung semua aspirasi masyarakat terdampak proyek tol sepanjang 35,6 Km, meliputi trase Jawa Tengah dan Yogyakarta yang melintasi tiga kabupaten. “tegasnya.

Jaka, juga menambahkan aspek ekonomi tidak kalah penting, dimana ini akan menjadi jalur distribusi sayur-mayur, dari lereng Merapi yang menjadi sumber kebutuhan masyarakat. Diharapkan akses jalan distribusi tersebut juga mempertimbangkan keberadaan jalur truk pengangkut material pasir dari lereng Merapi.

Dari hasil pemantauan Setiap hari ada 2.000 truk pasir yang beroperasi di Klaten. Bagaimana nanti pembangunan tol itu tidak mengganggu jalur angkutan pasir. Belum lagi dampak pengurangan lahan pertanian. Tentunya hal ini akan berpengaruh langsung terhadap petani seperti jatah bantuan pupuk akan berkurang. Belum lagi petani yang terpaksa kehilangan mata pencaharian. Hal ini sangat penting untuk menjadi masukan,” jelas Jaka Sawaldi.

Tugiran (58) warga Duwet, Kebonarum, Klaten menyampaikan, di desanya ada sumber air yang bakal terkena lintas jalan tol. Sedangkan sumber air itu, meskipun tidak besar namun sangat membantu pasokan air bagi petani saat musim kemarau

BACA JUGA : TINGKATKAN PENDIDIKAN DIPERBATASAN, TNI BANTU WARGA BANGUN PAUD

“Di desa kami itu ada sumber mata air yang sangat dibutuhkan petani. Hampir 35% petani sangat tergantung pada mata air ini, dan dampaknya akan terasa,” ungkapnya.

Menurut Tugiran, selain sumber mata air, masyarakat juga memikirkan nasib lahan pemakaman warga.

“(Lahan) pemakaman ini bagi warga adalah terkait dengan nasib leluhurnya. Belum lagi jika pembangunan tol nanti harus membelah dua dukuh. Harapannya (dengan) adanya jalan penghubung, akan membantu warga dalam berinteraksi,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan