Rabu, 23 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BENCANA ALAM

MASYARAKAT PAPUA ANTUSIAS MENYAMBUT CINTA KASIH NATAL BUKAN “OPM”

Papua, “tabloidnusantara.com” – Organisasi Papua Merdeka (OPM)  selalu memperingati 1 Desember 2019 sebagai hari ulang tahunnya. Kendati demikian, masyarakat Papua  dan Papua Barat tidak tertarik dengan perayaan kelompok separatis. Pasalnya, Desember adalah bulan suci yang didalamnya terdapat hari Natal.

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram

Papua, “tabloidnusantara.com” – Organisasi Papua Merdeka (OPM)  selalu memperingati 1 Desember 2019 sebagai hari ulang tahunnya. Kendati demikian, masyarakat Papua  dan Papua Barat tidak tertarik dengan perayaan kelompok separatis. Pasalnya, Desember adalah bulan suci yang didalamnya terdapat hari Natal.

1 Desember tampaknya menjadi hari yang ditunggu oleh kelompok separatis untuk merayakan ulang tahunnya, sehingga aparat kepolisian mengerahkan 1.300 personel untuk melakukan pengamanan di seluruh wilayah Papua. Selain itu 1 Desember juga merupakan hari penting di Papua, dimana hari tersebut merupakan hari pembuka untuk merayakan Natal bagi umat Kristen dan Katolik dari berbagai demonasi gereja.

Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw

Sementara itu Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan, tanggal 1 Desember tersebut menjadi  hari kemerdekaan bangsa Papua, dan hal ini patut diwaspadai karena berkaitan dengan upaya-upaya menaikkan bendera bintang kejora dan upaya melakukan demonstrasi dengan mengerahkan massa yang besar dan lain sebagainya. Pihaknya juga tidak sepakat adanya pengibaran bintang kejora pada 1 Desember atau hari-hari setelahnya.

BACA JUGA : MASYARAKAT PAPUA SEMAKIN CERDAS “DENGAN TIDAK PERCAYA KEPADA OPM”

Pada kesempatan berbeda, ketua
wilayah adat La Pago Agus Rawa Kogoya menghimbau kepada seluruh masyarakat
Papua agar tidak terhasut dengan rencana OPM pada 1 Desember 2019.

Agus menilai, selama Bulan
Desember semestinya masyarakat Papua khususnya umat kristiani lebih
mempersiapkan dalam menyambut Natal yang akan dirayakan pada 25 Desember 2019
dan Tahun Baru 2020.

Dirinya juga telah menyampaikan
bahwa Papua adalah tanah damai dan hal ini  sudah menjadi komitmen bersama
sehingga patut disepakati dan diindahkan dengan tidak membuat kegaduhan ataupun
menyebarkan informasi yang tidak benar. Apalagi Desember adalah bulan untuk
persiapan perayaan natal bagi umat Kristiani. Sehingga jangan sampai kedamaian
natal dipengaruhi oleh isu murahan.

Menurutnya daripada membuat aksi
atau orasi-orasi yang bisa memancing kerusuhan lebih baik masyarakat berdoa di
rumah masing-masing, bukan dengan berkumpul di jalan-jalan atau di satu tempat
yang sudah dilarang oleh pemerintah. Apalagi dalam tiga bulan terakhir ini
situasi di Papua tengah dalam situasi pemulihan pasca aksi anarkis di sejumlah
daerah.

Tentunya untuk menjaga kedamaian
di bulan Desember, Masyarakat Papua sudah semestinya lebih cerdas dan cermat
dalam menerima segala bentuk informasi atau ajakan yang berujung pada
permasalahan. Ada baiknya mempersiapkan diri dan keluarga untuk menyambut
perayaan Natal 25 Desember 2019 dan tahun baru 2020.

Meski situasi saat ini terpantau
kondusif, namun memang terdengar kabar massa yang hendak turun ke jalan membawa
bendera bintang kejora lambang OPM.

Pada kesempatan berbeda, tokoh
Agama Pdt. Albert Yoku mengajak masyarakat agar menghindari segala sesuatu yang
dapat menimbulkan kerusuhan atau kekacauan di Bumi Cenderawasih.

Tentu kita tidak ingin sejarah kelam terjadi kembali, seperti pada tragedi fatal 2 Desember 2018 lalu, dimana OPM telah membantai 31 pekerja pembangunan jalan di Kali Yigi Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga yang dilakukan oleh kelompok pimpinan Egianus Kogoya.

BACA JUGA : “SEBANYAK 3.000 WARGA HADIRI KKR DI AUDITORIUM UNCEN”

Agus juga menghimbau kepada
seluruh masyarakat bumi Cenderawasih untuk senantiasa bersikap bijaksana dan
cermat dalam menerima informasi sebelum mengikuti ajakan yang bisa membuat
kegaduhan atau konflik yang bisa memakan korban.

Kesakralan bulan desember tentu
harus dijaga dengan senantiasa tidak mudah terpancing provokasi ataupun tidak
menyebarkan sesuatu yang berujung pada konflik antar anak bangsa.

  • Sumber : Sabby Kosay
  • Penulis adalah pengamat sosial politik