KEPALA BNPB MENYIMPULKAN ADA 3 FAKTOR PENYEBAB BANJIR BANDANG SENTANI, JAYAPURA, PAPUA.

0
63
Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Munardo didampingi Pangdam XVII/Cen, Wakil Bupati Jayapura

SENTANI, Senin 18 Maret 2019. Kepala BNPB Letnan Jenderal  TNI Doni Munardo didampingi Pangdam XVII/Cen, Wakil Bupati Jayapura, serta Kapolres Jayapura mengunjungi lokasi pengungsi bencana banjir yang berada di Kantor bupati Sentani, Jayapura yang merupakan Posko Induk Penanganan Bencana Banjir Bandang.

malam hingga Minggu dini hari, ketiga hal faktor itu merupakan kombinasi dari faktor topografi, cuaca dan ulah manusia

Letnan Jenderal  TNI Doni Munardo menyimpulkan bahwa setidaknya ada tiga hal penting yang menjadi penyebab terjadinya bencana banjir bandang di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (16/3/2019) malam hingga Minggu dini hari, ketiga hal faktor itu merupakan kombinasi dari faktor topografi, cuaca dan ulah manusia. “Secara khusus, kami belum dapat menemukan sebuah jawaban yang akurat yang bisa saya sampaikan, akan tetapi paling tidak ada tiga faktor tersebut,” ujar Kepala BNPB Letjen TNI Beni Munardo, Senin siang (18/3/2019)

Untuk topografi, kemiringan cagar alam Cyclop yang menjadi kawasan hulu air sangat terjal. Selain itu, lapisan kontur tanahnya sangatlah tipis dan di bawahnya terdapat bebatuan yang ditutupi oleh beberapa tanaman, ketika ada satu saja tanaman yang terpotong atau tercabut maka akan memudahkan terjadinya longsor. Apalagi dengan tingkat kecuraman di atas 40 derajat, maka unsur gravitasi membawa material dengan sangat cepat ke daerah yang lebih rendah. Kedua, menurut dia, adalah faktor cuaca. Dengan intensitas hujan sangat lebat yang berlangsung lebih dari lima jam menyebabkan kawasan Cyclop tidak mampu lagi menampung debit air yang turun sehingga dengan cepat mengalir ke kawasan yang ada di bawahnya.

Sementara itu, dari sisi manusia, Beni mengungkapkan, sudah terjadi banyak alih fungsi lahan di kawasan cagar alam Cyclop sehingga kemampuan daya serap air terus melemah. “Saya mendapat laporan yang menyampaikan bahwa sebagian dari kawasan Gunung Cyclop sudah dijadikan sebagai kawasan perkebunan. Tentunya (untuk mengatasi) hal ini harus ada komitmen dari semua pihak, termasuk dari para tokoh di Papua, khususnya di Sentani, untuk bisa mengajak kawan-kawan kita agar bisa dengan sukarela meninggalkan kawasan itu,” katanya.

Hingga Senin (18/3/2019) siang, data korban yang terhimpun di posko penanggulangan bencana, yang meninggal dunia mencapai 72 orang, luka ringan 75 orang, luka berat 41 orang, pengungsi 4.739 orang.

Tinggalkan Balasan