KASUS POSITIF COVID-19 BERTAMBAH 1.014, KASUS PENULARAN DIDOMINASI PENULARAN LOKAL

0
116
Achmad Yurianto. Sumber Gambar covid19.go.id
Achmad Yurianto. Sumber Gambar covid19.go.id

JAKARTA . “tabloidnusantara.com”. – Penambahan kasus terkonfirmasi positif masih terus berlangsung di tanah air. Dalam waktu 24 jam terakhir, terhitung mulai hari Jumat (12/6) pukul 12.00 WIB sampai dengan hari Sabtu (13/6) pukul 12 WIB tercatat penambahan kasus positif Covid-19 sebanyak 1.014 kasus, sehingga jumlah total kasus positif menjadi 37.420 orang. Pernyataan ini disampaikan Juru Bicara Pemerintah Untuk Penanganan Covid-19, Ahmad Yurianto dalam konferensi pers di Gedung BNPB Jakarta, Sabtu (13/6) sore.

Sementara itu, selain jumlah penambahan kasus positif, Ahmad Yurianto juga menyampaikan penambahan pasien sembuh yang hari ini tercatat sebanyak 563 orang, sehingga junlah total pasien sembuh adalah 13.776 orang. Sedangkan kasus kematian bertambah 43 orang, sehingga jumlah total pasien meninggal adalah 2.091 orang.

Menurut Yuri, akumulasi data kasus tersebut diambil dari hasil uji pemeriksaan spesimen sebanyak 16.574 pada hari sebelumnya, Jumat (12/6) dan total akumulasi yang telah diuji menjadi 495.527spesimen. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di 110 laboratorium, Test Cepat Melokuler (TCM) di 82 laboratorium dan laboratorium jejaring (RT-PCR dan TCM) di 213 laboratorium.

Sedangkan untuk jumlah orang yang diperiksa per hari ada 11.128 dan akumulasinya menjadi 313.275. Dari pemeriksaan keseluruhan, didapatkan penambahan kasus positif per hari ini sebanyak 1.014 orang dan dinyatakan negatif sebanyak 10.114 orang.

Jumlah Terpapar Covid-19 Di Indonesia Per 13 Juni 2020. Sumber Gambar covid19.go.id

Dari 424 kota/jabupaten di 34 Provinsi di seluruh tanah air yang terdampak, menurut Yuri, penambahan kasus positif tidak merata. Ada 5 provinsi yang pada hari ini melaporkan jumlah kasus positif yang cukup tinggi di antaranya adalah Jawa Timur, yang melaporkan 176 kasus positif baru, sementara kasus sembuh yang dilaporkan Jawa Timur pada hari ini adalah 252 orang. Sulawesi Selatan, pada hari meningkat dengan laporan kasus baru sebanyak 125 orang dan melaporkan kasus sembuh sebanyak 36 orang.

Sementara itu Kalimantan Selatan melaporkan 123 orang kasus baru dan 22 orang sembuh. DKI Jakarta melaporkan 121 orang dengan kasus baru dan 59 sembuh.Sedangkan Sumatera Utara melaporkan 94 kasus baru namun tidak ada laporan kasus sembuh. “Dari keseluruhan, masih ada 18 provinsi yang melaporkan kasusnya di bawah 10, bahkan ada 5 provinsi yang hari ini melaporkan tidak ada kasus sama sekali,” tegas Yuri.

Dari data yang berhasil dihimpun oleh Gugus Tugas Percepatan Penangana Covid-19, dapat juga disimak bahwa pemerintah masih melakukan pemantauan secara terus menerus terhadap Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 42.450 orang dan masih melakukan pengawasan yang ketat terhadap Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 13.578 orang.

Sebelumnya, Ahmad Yurianto menjelaskan bahwa semenjak Covid-19 masuk ke Indonesia, maka hal terbesar yang dilakukan pemerintah adalah penguatan pintu masuk negara, sebagai upaya cegah tangkal untuk membendung supaya Covid-19 tidak masuk ke tanah air. “Namun dengan berjalannya waktu, penularan yang terjadi saat ini didominasi oleh kasus penularan lokal, bukan pada kasus imported case dari luar negeri, papar Yuri.

Kondisi tersebut menyebabkan gambaran-gambaran epidemiologi masing-masing daerah tidak memberikan gambaran yang sama. “Beberapa daerah kita memiliki resiko lebih tinggi untuk munculnya penularan karena aktifitas sosialnya jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Maka dari itu diberlakukanlah PSBB di daerah daerah tersebut untuk menekan mobilitas penduduk, sebagai faktor pembawa virus yang dapat menyebabkan penularan,” tegas Yuri.

Yuri juga menjelaskan bahwa data kasus dan penanganan COVID-19 berbeda dan tidak bisa dibandingkan dengan negara lain. Hal itu dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi seperti tingkat ancaman epidemiologisnya yang tidak sama.

“Tanah air kita terdiri banyak kepulauan, terdiri dari banyak wilayah yang cukup luas, dengan kepadatan, dan risiko mobilitas orang yang terkait dengan faktor pembawa penyakit cukup besar, yang sangat berbeda,” jelas Yuri.

Oleh karena itu, pemerintah juga mempelajari beberapa hal, terkait dengan episentrum yang lain, seperti Kota Surabaya, kemudian Makassar, termasuk kemudian Kalimantan Selatan, untuk dihitung kembali, jumlah yang diperiksa per satu juta penduduk.

“Ini menjadi faktor pengukur yang lebih obyektif, kalau kemudian kita mau melihat kinerja secara keseluruhan, dari upaya kita bersama dalam menanggulangi COVID-19,” tegas Yuri.

Sumber Berita: covid19.go.id

Tinggalkan Balasan