BANJARMASIN, tabloidnusantara. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut melalui KSOP Kelas I Banjarmasin bergerak cepat merespons insiden darurat KM Virgo Transport 8. Kapal roro berbendera Indonesia itu dilaporkan mengalami kemiringan ekstrem dan hilang kontak di perairan Masalembo, Laut Jawa, Minggu dini hari.
Hingga saat ini operasi pencarian masih berlangsung untuk memastikan keselamatan seluruh penumpang dan kru.
Berdasarkan data operasional, KM Virgo Transport 8 dengan bobot 8.540 GT dinakhodai Arief Yunianto dan dioperasikan PT Virgo Karya Shipping. Kapal bertolak dari Pelabuhan Surabaya pada Sabtu pukul 06.52 WIB dengan tujuan akhir Pelabuhan Banjarmasin.
Insiden bermula ketika kapal mendadak mengalami listing dan terputus komunikasi sekitar pukul 02.00 WITA di perairan Masalembo. Merujuk manifest resmi, kapal membawa 243 jiwa. Jumlah itu terdiri dari kru, mitra kerja, penumpang dewasa, satu anak-anak, serta sopir dan kernet. Di atas kapal juga termuat 89 unit kendaraan.
Kepala Kantor KSOP Kelas I Banjarmasin Heri Purwanto menyatakan pihaknya langsung merespons laporan tersebut. Posko krisis didirikan di Terminal Penumpang Bandarmasih, Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Posko menjadi pusat komando penanganan dan koordinasi lintas instansi.
”KSOP, Basarnas, BUP PT Pelindo, Kantor Distrik Navigasi Banjarmasin, Kepanduan PT Pelindo III, pihak agen kapal, hingga posko pengaduan keluarga korban semua dilibatkan dalam satu komando,” jelas Heri, Minggu.
Di lapangan, operasi SAR gabungan yang dikomandoi Basarnas Banjarmasin langsung dikerahkan. Evakuasi awal turut dibantu kapal niaga yang melintas di sekitar titik kejadian, yakni KM Hai Da, MT Mau Ha, dan TB TCP.
Dari penanganan awal, sebanyak 115 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat maupun mendapatkan perawatan medis. Proses pendataan dan pencarian korban lainnya masih terus berlangsung.
Heri menegaskan prioritas utama saat ini adalah keselamatan seluruh orang di atas kapal melalui pengerahan operasi penyelamatan yang terkoordinasi.
Mengenai penyebab insiden, otoritas pelabuhan belum dapat menyimpulkan. Unsur cuaca, kendala teknis, faktor manusia, hingga dampak terhadap muatan dan potensi pencemaran lingkungan masih dalam tahap investigasi mendalam oleh tim ahli.
”KSOP Kelas I Banjarmasin berkomitmen memantau perkembangan penanganan ini secara berkala dan akan menyampaikan pembaruan informasi resmi kepada masyarakat sesuai progress di lapangan,” tutup Heri.
Dengan ratusan jiwa masih dalam proses evakuasi dan pencarian, koordinasi cepat antar instansi menjadi kunci. KSOP Banjarmasin memastikan informasi terbaru akan terus disampaikan agar keluarga korban mendapatkan kepastian dan penanganan berjalan maksimal.
