YOGYAKARTA, tabloidnusantara. Usai berunjuk rasa di Titik Nol Kilometer, Rabu (28/10/2026) sore, ribuan massa bergerak menuju utara ke arah DPRD DIY. Di depan gedung wakil rakyat tersebut, situasi berubah ricuh.
Massa tiba-tiba melempar petasan dan kembang api serta batu. Mereka juga mendobrak gerbang Gedung DPRD DIY yang sejak siang sudah ditutup. Massa mencoba memaksa masuk ke dalam lobi gedung dewan.
Situasi ini membuat sejumlah wisatawan yang berada di Malioboro berlarian masuk ke gedung DPRD melewati masjid di sisi utara. Warga yang tengah beribadah pun akhirnya ikut masuk untuk mencari keselamatan dari hujan petasan dan kembang api.
Aparat keamanan yang sejak pagi berjaga-jaga di DPRD kemudian maju ke lobi untuk menghalangi massa yang memaksa merangsek masuk ke gedung tersebut.
Ratusan polisi juga terlihat berjaga-jaga di sepanjang kawasan Malioboro untuk mengamankan salah satu ikon Kota Yogyakarta tersebut.
Beberapa warga dan petugas kepolisian terlihat mengalami luka-luka dalam peristiwa pelemparan mercon dan kembang api tersebut. Tim kesehatan yang berjaga memberikan pertolongan pada korban yang luka-luka. Hingga pukul 19.30 WIB, aksi massa masih berlangsung.
Sebelumnya ribuan massa dari berbagai elemen mahasiswa, pemuda, buruh, dan masyarakat sipil menggelar aksi unjuk rasa dalam rangka Peringatan Hari Sumpah Pemuda. Aksi digelar di sejumlah titik di Yogyakarta, mulai dari DPRD DIY, Kantor Gubernur DIY di Kompleks Kepatihan hingga kawasan Titik Nol Kilometer.
Massa membawa 12 tuntutan dalam aksi tersebut. Massa mengkritik kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Berikut 12 tuntutan massa:
1. Menetapkan upah berdasarkan standar kebutuhan hidup layak (KHL), menghentikan praktik upah murah, serta menjamin pekerjaan layak. Mereka turut meminta penetapan UMK Rp4.604.962 dan penurunan harga kebutuhan pokok.
2. Menetapkan karhutla sebagai bencana nasional, mengadili korporasi penyebab kebakaran, dan membuka transparansi HGU.
3. Mengusut tuntas dugaan KKN, termasuk kasus Stadion Mandala Krida.
4. Mengembalikan militer ke barak dan membatalkan pembangunan batalion teritori.
5. Menghapus program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan menggantinya dengan pendidikan gratis, ilmiah, dan demokratis.
6. Menghentikan perampasan tanah dan eksploitasi alam.
7. Menolak pengalihan anggaran negara yang dinilai merugikan rakyat.
8. Melawan ormas reaksioner dan membangun wadah persatuan rakyat.
9. Menghentikan kriminalisasi gerakan rakyat serta pembungkaman terhadap pengemudi ojek online (ojol).
10. Menuntut keadilan, kesejahteraan, dan jaminan kebebasan menyampaikan pendapat.
Massa menegaskan aksi ini bukan sekadar peringatan seremonial Sumpah Pemuda, melainkan bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
