AS KIRIM KAPAL INDUK DAN PENGEBOM KE TELUK PERSIA

0
259
Penasihat Keamanan AS John Bolton

Amerika Serikat baru saja mengirimkan kapal induk dan pesawat pengebom mereka ke Teluk Persia, mengatakan bahwa ada peringatan yang mengkhawatirkan terkait Iran. Pemerintahan Trump telah mengambil kebijakan garis keras terhadap Iran dan mengatakan pihaknya bertujuan untuk memaksa Iran mengurangi atau mengakhiri dukungannya bagi milisi Syiah dan kelompok-kelompok lain di Timur Tengah. Penasihat Keamanan AS John Bolton mengatakan, pengerahan ini bertujuan untuk mengirim pesan pada rezim Iran bahwa serangan mereka terhadap kepentingan AS atau sekutunya akan selalu ditanggapi dengan kekuatan.

Gedung Putih mengumumkan pada hari Minggu (5/5) bahwa Amerika Serikat mengirim kapal induk dan pengebom Angkatan Udara ke Teluk Persia karena adanya “indikasi dan peringatan yang mengganggu dan meluas” terkait Iran.

Pengerahan itu dimaksudkan “untuk mengirim pesan yang jelas kepada rezim Iran bahwa setiap serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat atau terhadap sekutu kita akan selalu ditanggapi dengan kekuatan,” kata John R. Bolton, penasihat keamanan nasional, dalam sebuah pernyataan yang dirilis Minggu malam (5/5).

Pengumuman itu tidak memberikan informasi lebih lanjut tentang alasan komitmen pasukan militer tersebut. Seorang pejabat militer Amerika mengatakan pada Minggu malam bahwa ancaman apa pun yang dikutip oleh Bolton kemungkinan besar akan muncul dalam 24 hingga 48 jam sebelumnya karena pada Jumat malam (3/5), analis militer tidak melacak adanya ancaman Iran atau ancaman dari pihak yang didukung Iran terhadap orang Amerika di Irak atau wilayah tersebut.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, ketika ditanya oleh wartawan tentang pernyataan Bolton dalam penerbangannya ke Finlandia, mengatakan, “Ini adalah sesuatu yang telah kami kerjakan selama beberapa waktu.”

“Ini kasus di mana kami telah melihat tindakan eskalasi dari Iran, dan kami akan meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan terhadap kepentingan Amerika,” katanya. “Jika tindakan ini terjadi, bahkan jika dilakukan oleh proxy pihak ketiga, kelompok milisi, Hizbullah, kami akan meminta pertanggungjawaban kepemimpinan Iran secara langsung untuk itu.”

Dalam beberapa hari terakhir, telah terjadi serangkaian kekerasan fatal yang meningkat antara Hamas, kelompok bersenjata Palestina di Gaza, dan militer Israel, tetapi seorang pejabat Amerika mengatakan bahwa hal itu tidak ada hubungannya dengan peningkatan militer di Teluk Persia. Meskipun Iran telah mendanai Hamas, tidak ada tanda-tanda bahwa mereka terlibat dalam serangan roket Hamas baru-baru ini terhadap Israel.

“Amerika Serikat tidak menginginkan perang dengan rezim Iran, tetapi kami sepenuhnya siap untuk menanggapi serangan apa pun, baik dari perwakilan, Korps Garda Revolusi Islam, atau pasukan reguler Iran,” kata Bolton dalam pernyataan itu.

Kapal induk yang menuju Teluk Persia itu adalah USS Abraham Lincoln, yang telah berada di Laut Mediterania. Sebelumnya tidak ada kapal induk di Teluk Persia, tetapi kapal induk semacam ini sering transit melalui perairan itu karena Terusan Suez ada di wilayah tersebut.

Pada akhir April, USS Abraham Lincoln dan armada kapal yang menyertainya menjalani pelatihan bersama dengan kapal-kapal Amerika lainnya dan unit-unit militer dari Inggris, Spanyol, dan Prancis.

Seorang juru bicara Pentagon mengonfirmasi langkah-langkah militer sebagaimana diuraikan dalam pernyataan Bolton tetapi menolak memberikan rincian lebih lanjut.

Pemerintahan Trump telah mengambil kebijakan garis keras terhadap Iran dan mengatakan pihaknya bertujuan untuk memaksa Iran mengurangi atau mengakhiri dukungannya bagi milisi Syiah dan kelompok-kelompok lain di Timur Tengah.

Satu tahun yang lalu, Presiden Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir yang telah dicapai oleh kekuatan-kekuatan dunia dengan Iran pada tahun 2015, dan sejak itu Trump telah menjatuhkan sanksi keras yang dimaksudkan untuk memaksa perubahan politik di Iran. Bolton dan Pompeo telah menjadi pemimpin dalam merumuskan kebijakan garis keras baru ini, yang seringkali bertentangan langsung dengan rekomendasi dari Departemen Pertahanan dan CIA.

Bulan lalu, pemerintahan Trump menunjuk Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris. Langkah ini berbuntut pada hukuman ekonomi dan pembatasan perjalanan bagi anggota kelompok, unit militer Iran, dan siapa pun yang berurusan dengan Garda Revolusi Iran. Penunjukan teroris ini adalah pertama kalinya Amerika Serikat melakukan tindakan melawan pemerintah negara lain.

Meskipun Bolton dan Pompeo bersikeras atas penunjukan ini, pejabat pertahanan dan intelijen menentangnya karena khawatir Iran akan mengambil tindakan balasan terhadap personil militer Amerika dan operasi intelijen, atau bahkan melancarkan serangan.

Pada hari Selasa (30/5), Presiden Hassan Rouhani dari Iran telah mengesahkan undang-undang yang menyatakan bahwa semua pasukan Amerika di Timur Tengah teroris dan menyebut pemerintah Amerika Serikat sebagai negara sponsor terorisme.

Pada hari Kamis (2/5), pemerintahan Trump mengakhiri keringanan pembelian minyak untuk Iran, dalam upaya untuk memotong semua pendapatan yang diperoleh Iran dari ekspor minyaknya. November lalu, ketika AS memberlakukan sanksi besar terhadap Iran, AS memberikan keringanan enam bulan kepada delapan negara untuk terus membeli minyak Iran.

Pejabat Amerika memberi isyarat kepada negara-negara tersebut pada musim semi ini bahwa mereka akan melanjutkan keringanan itu, tetapi bulan lalu mereka membuat pengumuman mengejutkan bahwa keringanan itu akan berakhir. China dan Turki, dua pelanggan minyak Iran, mengatakan mereka menentang sanksi Amerika tersebut.

Pada hari Jumat (3/5), para pejabat Amerika mengumumkan bahwa mereka akan memperpanjang sebagian besar keringanan yang memungkinkan beberapa negara untuk bekerja sama dengan Iran pada program nuklir sipil terbatas, tetapi mengatakan bahwa keringanan itu hanya akan bertahan selama 90 hari.

Bulan lalu, senator Republik dan Demokrat AS bertanya kepada Pompeo apakah pemerintah akan secara eksplisit meminta persetujuan kongres sebelum mencoba memasuki perang dengan Iran. Pompeo menolak untuk menjawab, mengatakan pengacara harus menjawab pertanyaan itu.

Senator Rand Paul menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak dapat menyerang Iran sebagai bagian dari otorisasi perang yang memungkinkan penggunaan kekuatan militer terhadap al-Qaeda dan kelompok-kelompok ekstremis lainnya yang dianggap bertanggung jawab atas serangan 11 September 2001.

Pompeo mengatakan Iran memikul lebih banyak tanggung jawab atas kekerasan yang sedang berlangsung di Timur Tengah daripada aktor lainnya, meskipun militer Amerika berfokus pada memerangi ISIS, kelompok ekstrimis Sunni yang ditentang oleh pemerintah Syiah Iran. Militer Iran telah membantu pemerintah Irak yang dipimpin Syiah memerangi ISIS, yang telah merebut wilayah di Irak utara dan Suriah timur.

Pemerintahan Trump juga telah mengkritik Iran karena dukungannya kepada Hizbullah, kelompok politik dan militer Libanon, dan Houthi, kelompok pemberontak Syiah di Yaman.

Pasukan Iran dan pejuang proksi mereka umumnya menahan diri dari menyerang pasukan Amerika dalam beberapa tahun terakhir.

Pada puncak perang Irak pada pertengahan tahun 2000-an, para pejabat militer Iran membantu melatih milisi Syiah Irak untuk memerangi pasukan Amerika dan membantu membangun alat peledak yang kuat yang digunakan terhadap kendaraan lapis baja Amerika. Pentagon mengatakan setidaknya 603 personel Amerika tewas di Irak oleh pejuang yang didukung Iran tersebut―17 persen dari semua orang Amerika tewas dalam perang tersebut.

Bulan lalu, sebuah gugus tugas pengebom yang terdiri dari enam pengebom Angkatan Udara B-52 dan 450 tentara dari Pangkalan Angkatan Udara Barksdale di Louisiana kembali ke Amerika Serikat setelah pelatihan di Inggris. Tidak jelas apakah unit yang sama akan dikerahkan kembali ke Timur Tengah.

Keterangan foto utama: Kapal induk Abraham Lincoln bulan lalu di Laut Mediterania di lepas pantai Spanyol. Kapal itu telah dialihkan ke Teluk Persia.

Tinggalkan Balasan